Pangkalpinang, Demokrasibabel – Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung dari Fraksi Gerindra, Yogi Maulana, menyoroti peran perusahaan kelapa sawit yang dinilai tidak boleh semata-mata berorientasi pada keuntungan.
Ia menegaskan, keberadaan perusahaan seharusnya juga membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul banyaknya keluhan dari petani terkait rendahnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang dibeli oleh perusahaan di sejumlah wilayah, Selasa (21/4).
Menurut Yogi, kondisi ini menjadi persoalan serius mengingat mayoritas masyarakat Bangka Belitung menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit.
Ia menyebut lebih dari 60 persen warga di daerah tersebut merupakan petani sawit yang turut menggerakkan roda perekonomian.
“Perusahaan jangan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga harus memperhatikan nasib masyarakat. Petani sawit adalah tulang punggung ekonomi daerah,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti adanya perbedaan harga TBS sawit antarwilayah di Bangka Belitung. Di Kabupaten Belitung, harga TBS disebut bisa menembus di atas Rp3.000 per kilogram. Sementara itu, di sejumlah daerah di Pulau Bangka, harga masih berada di bawah angka tersebut.
Kesenjangan harga ini dinilai tidak wajar dan perlu mendapat perhatian serius. Yogi bahkan menyinggung salah satu perusahaan di wilayah Simpang Rimba yang disebut kerap menetapkan harga lebih rendah dibanding perusahaan lainnya.
Ia pun meminta aparat penegak hukum, termasuk kepolisian dan kejaksaan, untuk ikut turun tangan melakukan pengawasan agar penetapan harga TBS lebih adil dan tidak merugikan petani.
“Harus ada pengawasan agar harga sawit lebih berpihak pada kesejahteraan petani, bukan justru sebaliknya,” tegasnya.
DPRD berharap adanya langkah konkret dari berbagai pihak untuk memastikan stabilitas harga sawit, sehingga para petani dapat merasakan hasil yang layak dari usaha mereka.









