Pangkalpinang, Demokrasibabel – Sejumlah nelayan di Kota Pangkalpinang mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan pertalite. Kondisi tersebut bahkan membuat sebagian nelayan terpaksa tidak melaut hingga 12 hari karena kehabisan pasokan BBM.
Keluhan itu disampaikan perwakilan nelayan saat beraudiensi dengan Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Didit Srigusjaya, di ruang kerjanya, Selasa (3/11/2026).
Didit mengatakan, nelayan mengeluhkan sering terjadinya kekosongan stok solar dan pertalite yang berdampak langsung terhadap aktivitas melaut. Khusus kebutuhan solar di Pangkalpinang, kekurangannya disebut mencapai 120 ribu kiloliter per bulan.
“Selain itu, ternyata teman-teman nelayan kita ini juga membutuhkan pertalite untuk penerangan. Makanya kita Dinas Kelautan Perikanan terkait untuk minta bantu menyelesaikan ini bersama Pertamina,” kata Didit.
Dia juga meminta kepala dinas kelautan dan perikanan di tingkat kabupaten/kota segera membantu nelayan melengkapi persyaratan surat rekomendasi dan administrasi yang dibutuhkan.
Didit menyebut DPRD Babel akan terus memperjuangkan penambahan pasokan BBM untuk nelayan dengan menyampaikan persoalan tersebut kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di tingkat pusat.
“Kami juga akan terus ikut memperjuangkan untuk stok kebutuhan BBM di Babel ini langsung ke BPH Migas di pusat,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pelaku usaha di bidang kelautan dan perikanan Pangkalpinang, Ferdiansyah, mengaku pernah tidak bisa melaut selama 12 hari pada Oktober 2026 akibat tidak mendapatkan pasokan solar dan pertalite.
Menurutnya, ketersediaan BBM sangat penting karena aktivitas melaut bisa berlangsung cukup lama, mulai dari satu minggu hingga 21 hari.
“Kami ingin kegiatan kami untuk melaut itu aman, lancar terutama dalam pemenuhan bahan bakar baik solar maupun pertalite. Apalagi jumlah nelayan kita juga terus bertambah, sekarang saja sudah mencapai 420 kapal nelayan sedangkan jumlah solar hanya dibatasi 300 ribu kl per bulan. Padahal kapal nelayan itu rata-rata membutuhkan 1 ton itu pun tergantung jenis kapalnya,” ungkap Ferdiansyah.
Dia mengatakan, kedatangannya bersama perwakilan nelayan ke DPRD Babel bertujuan meminta bantuan agar kuota solar ditambah. Dengan begitu, kebutuhan bahan bakar nelayan dapat terpenuhi dan aktivitas melaut tidak terganggu.
Selain solar, nelayan juga membutuhkan sekitar 50 liter pertalite per hari untuk sekali keberangkatan. Durasi melaut setiap kapal berbeda-beda, mulai dari tujuh hari, 12 hari hingga 20 hari.
Ferdiansyah berharap Didit dan jajaran DPRD Babel dapat membantu menyampaikan aspirasi nelayan kepada BPH Migas sebagai lembaga yang memiliki kewenangan mengatur distribusi BBM.
“Kemarin sempat 12 hari tidak laut, tentu itu susah sekali lagi bagi kami, karena kami kan kehidupan tergantung pada sektor ini. Kami kesulitan karena jatah solar kami dibagi per bulan. Maka kalau setengah bulan sudah habis dari kuota kami yang ada, maka kami tidak bisa melaut,” tambahnya.
Di sisi lain, Ferdiansyah menilai sektor kelautan dan perikanan memiliki potensi ekonomi yang semakin menjanjikan bagi masyarakat. Hal itu seiring membaiknya harga sejumlah komoditas perikanan.
Karena itu, dia berharap pemerintah pusat maupun daerah memberikan perhatian terhadap sektor tersebut, termasuk memastikan ketersediaan BBM agar nelayan dapat menjalankan aktivitas melaut secara berkelanjutan.







