Festival Junjung Besaoh 2026 Digelar Oktober, Pemkab Basel Matangkan Persiapan

by -1063 Views

Toboali, Demokrasibabel – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mulai mematangkan persiapan Festival Junjung Besaoh 2026 yang akan digelar pada 23-25 Oktober mendatang. Persiapan dibahas melalui rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Rapat koordinasi tersebut berlangsung di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan, Jumat (18/9/2026). Pertemuan dipimpin Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bangka Selatan Haris Setiawan bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan Anshori.

Rapat diikuti sejumlah perangkat daerah dan unsur terkait, di antaranya perwakilan dinas dan badan di lingkungan Pemkab Bangka Selatan, unsur kecamatan, Satpol PP, perwakilan bagian di Sekretariat Daerah, Lembaga Adat Melayu, serta Dewan Kesenian Kabupaten Bangka Selatan.

Selain membahas persiapan Festival Junjung Besaoh, rapat juga menjadi momentum memperkenalkan logo resmi Hari Jadi Kota Toboali ke-318 Tahun 2026. Logo tersebut mengusung tagline “Ngerajut Sejarah, Ngerawat Tradisi, Ngejago Budaya.”

Tagline itu memiliki tiga pesan utama. “Ngerajut Sejarah” menggambarkan upaya menghubungkan kembali perjalanan sejarah Toboali. Kemudian “Ngerawat Tradisi” menekankan pentingnya mempertahankan nilai dan norma yang masih tumbuh di tengah masyarakat.

Sementara “Ngejago Budaya” menjadi gambaran tekad menjaga kebudayaan sebagai identitas daerah agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pesan tersebut dituangkan dalam sejumlah unsur visual logo. Angka 318 yang dibuat saling berkaitan merepresentasikan kesatuan dan kebersamaan dalam menjaga tradisi dan budaya.

Elemen topi tradisional Sindeng digunakan sebagai simbol identitas budaya Melayu yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kabupaten Bangka Selatan. Sementara unsur ombak dan ikan menggambarkan kekayaan sumber daya laut serta kehidupan masyarakat Toboali yang lekat dengan karakter wilayah pesisir.

Lintasan pada logo menggambarkan perjalanan Toboali dari masa ke masa, sejalan dengan semangat “ngerajut sejarah, ngerawat tradisi, dan ngejago budaya”.

Pilihan warna pada logo juga memiliki makna. Biru merepresentasikan air sebagai sumber kehidupan. Oranye menggambarkan energi, antusiasme, kreativitas dan keramahan. Hijau mencerminkan alam, pertumbuhan, ketenangan, harapan, pembaruan, semangat serta persatuan. Sedangkan merah menjadi simbol semangat dan persatuan.

Dalam rapat, pembahasan kemudian difokuskan pada kesiapan Festival Junjung Besaoh. Sejumlah aspek teknis dibahas, mulai dari penataan lokasi, pengamanan, pembagian koordinasi antarperangkat daerah hingga publikasi kegiatan.

Haris Setiawan mengatakan pesan yang dibawa logo Hari Jadi Kota Toboali ke-318 harus berjalan seiring dengan kesiapan penyelenggaraan di lapangan.

Menurutnya, koordinasi antarpihak menjadi salah satu kunci agar seluruh rangkaian agenda berlangsung aman, tertib dan lancar serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Haris juga meminta panitia tidak berhenti pada konsep kegiatan yang telah disusun. Menurutnya, potensi acara pendukung masih dapat dikembangkan untuk membuat Festival Junjung Besaoh lebih semarak sekaligus memperluas dampaknya.

“Apabila ada seminar atau pameran tentu akan lebih bagus lagi. Coba didiskusikan kembali, apakah ada hal-hal yang bisa didukung dan disinergikan dari pihak pemerintah provinsi,” ujar Haris.

Aspek publikasi juga menjadi perhatian dalam rapat tersebut. Haris meminta materi sosialisasi seperti spanduk dan baliho mulai dipersiapkan untuk dipasang di sejumlah lokasi strategis pada awal bulan mendatang.

Publikasi lebih awal diharapkan dapat memperluas informasi mengenai Hari Jadi Kota Toboali ke-318 sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam rangkaian kegiatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.