Bangka Selatan, Demokrasibabel – Petani semangka di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, berharap hasil panen mereka dapat diserap dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menilai program tersebut bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan pemasaran hasil pertanian lokal.
Harapan itu muncul setelah adanya arahan Badan Gizi Nasional (BGN) agar hasil pertanian masyarakat dapat diserap oleh dapur-dapur yang menjalankan program MBG. Namun, petani mengaku penyerapan semangka di lapangan belum berjalan optimal.
Mang Kasim, petani semangka asal Kemuning, Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar, mengatakan petani sebelumnya berharap hasil panen dapat langsung dibeli oleh dapur MBG.
“Awalnya kami berharap hasil panen ini bisa diserap oleh dapur-dapur MBG. Tapi setelah panen, ternyata kondisinya masih sama seperti dulu. Petani semangka masih kesulitan memasarkan hasil panennya,” ujar Mang Kasim.
Menurutnya, penyerapan hasil pertanian oleh dapur MBG saat ini lebih banyak menyasar komoditas buah lainnya. Padahal, mayoritas petani di wilayahnya menanam semangka.
Dia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat membuka akses agar semangka hasil panen petani lokal juga masuk dalam rantai pasok dapur MBG.
“Semoga pemerintah bisa melihat kondisi ini dan membantu kami dalam memasarkan hasil panen semangka,” katanya.
Mang Kasim juga meminta dinas terkait, pemerintah daerah, serta pihak KSPPG membuka peluang bagi dapur MBG untuk membeli langsung hasil pertanian petani setempat dengan harga yang layak.
Saat ini, harga semangka di tingkat petani berkisar Rp 4.000 per kilogram untuk buah berukuran besar. Sedangkan semangka berukuran kecil hanya dihargai sekitar Rp 2.000 per kilogram.
Persoalan pemasaran juga membuat biaya yang ditanggung petani semakin besar. Menurut Mang Kasim, petani terkadang harus mengantarkan sendiri hasil panen ke desa-desa lain untuk mencari pembeli.
“Belum lagi harus mengeluarkan biaya bensin untuk mengantar. Sementara biaya pupuk tinggi, harga bibit juga tinggi,” ungkapnya.
Selain pemasaran dan biaya produksi, petani semangka juga menghadapi tantangan cuaca panas dan keterbatasan air. Kondisi tersebut membuat petani harus menggunakan mesin pompa untuk memenuhi kebutuhan air tanaman setiap hari.
“Kondisi cuaca sekarang panas. Air juga cukup sulit, sehingga kami harus memompa menggunakan mesin setiap hari. Itu semua menambah biaya produksi,” jelas Mang Kasim.
Karena itu, dia berharap pemerintah daerah, termasuk wakil bupati dan dinas terkait, dapat menyampaikan kondisi petani semangka kepada dapur-dapur MBG yang berada di Bangka Selatan maupun wilayah lainnya.
Dia berharap hasil pertanian lokal dapat menjadi bagian dari rantai pasok program MBG. Dengan begitu, petani tidak hanya mendapatkan kepastian pasar, tetapi juga peluang memperoleh harga jual yang lebih layak.
“Harapannya, pemerintah bisa menyuarakan kondisi kami kepada dapur-dapur MBG, baik yang ada di Bangka Selatan maupun di luar Bangka Selatan, agar hasil panen petani semangka bisa diterima dan kami mendapatkan harga yang pantas,” pungkasnya.







