Harga Ayam Ras di Babel Tembus Rp49 Ribu, BI Dorong TPID Bergerak Cepat

by -348 Views

PANGKALPINANG – Harga daging ayam ras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga daging ayam ras pada September 2026 mencapai Rp49.354 per kilogram.

Angka tersebut meningkat 13,04 persen dibandingkan rata-rata harga pada Agustus 2026 yang berada di level Rp43.661 per kilogram. Harga tersebut juga tercatat 23,39 persen lebih tinggi dibandingkan Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp40.000.

Kenaikan harga daging ayam ras turut menjadi salah satu komoditas yang mendorong inflasi Bangka Belitung. Sebelumnya, BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat inflasi pada Agustus 2026 sebesar 3,94 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui siaran pers menyebut kenaikan harga ayam ras dipengaruhi sejumlah faktor.

Salah satunya adalah tingginya harga ikan laut akibat keterbatasan stok yang dipengaruhi cuaca ekstrem. Kondisi tersebut mendorong sebagian masyarakat beralih mengonsumsi daging ayam ras untuk memenuhi kebutuhan protein.

Selain itu, terdapat gangguan produksi yang berdampak terhadap pasokan ayam ras. Kebutuhan ayam juga meningkat seiring pemenuhan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Faktor lainnya yakni kecenderungan pelaku usaha mempertahankan margin keuntungan di tengah tingginya harga pembelian serta adanya sejumlah peringatan acara keagamaan yang berlangsung berdekatan.

TPID Diminta Antisipasi Kenaikan Harga

Melihat perkembangan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu bergerak cepat untuk mengantisipasi kenaikan harga ayam ras yang masih berlanjut.

Sejumlah langkah yang didorong antara lain berkolaborasi dengan Tim Satgas Pangan untuk melakukan inspeksi mendadak ke kandang Day Old Chick (DOC) dan peternak ayam ras, baik mandiri maupun kemitraan berskala besar.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi riil di lapangan, termasuk kemungkinan gangguan produksi akibat penyakit atau wabah.

TPID dan Satgas Pangan juga didorong melakukan investigasi terhadap rantai nilai ayam ras dari hulu hingga hilir. Pemantauan mencakup harga di tingkat konsumen, potensi spekulasi pedagang, hingga pemeriksaan distributor untuk mengantisipasi adanya penimbunan stok ayam segar maupun beku.

Selain itu, kelancaran distribusi pasokan pangan dari luar daerah perlu dipastikan. TPID juga diminta berkoordinasi dengan produsen dan instansi terkait untuk mencari solusi peningkatan produksi ayam lokal di Bangka Belitung.

Sementara untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan ayam dari SPPG, TPID didorong berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Salah satu alternatif yang disebutkan adalah mencari sumber protein hewani selain ayam ras untuk mengurangi tekanan permintaan terhadap komoditas tersebut.

BI Dukung Stabilisasi Harga Pangan

Bank Indonesia menyatakan terus mendukung upaya stabilisasi harga melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Dukungan tersebut antara lain melalui fasilitasi Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah (GPM), perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).

Salah satu langkah yang telah dilakukan yakni memfasilitasi pengiriman 7.000 kilogram daging ayam beku ke Belitung Timur. BI juga melakukan penguatan kompetensi anggota TPID dan klaster pangan melalui capacity building, serta komunikasi publik untuk menjaga ekspektasi masyarakat.

Siaran pers tersebut diterbitkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 15 September 2026 dan ditandatangani Kepala Perwakilan BI Babel Rommy S. Tamawiwy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.