UBB Gelar Seminar Nasional LTJ, Dorong Hilirisasi dan Penguasaan Teknologi Logam Tanah Jarang

by -1409 Views

Pangkalpinang, Demokrasibabel.com – Universitas Bangka Belitung (UBB) menggelar Seminar Nasional bertema “Logam Tanah Jarang dan Mineral Strategis Lainnya: Potensi, Regulasi, Ekstraksi, dan Teknologi Hilirisasi Menuju Industri Mineral Bernilai Tambah dan Berkelanjutan” di Balai Utama De Universitaria UBB, Kamis (23/7/2026). Seminar ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) serta penguasaan teknologi pengolahannya di Indonesia.

Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, hingga anggota legislatif untuk membahas pengembangan logam tanah jarang yang dinilai memiliki prospek besar bagi masa depan industri nasional, khususnya di Bangka Belitung.

Rektor UBB Ibrahim mengatakan seminar ini menjadi ruang diskusi untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan pengelolaan logam tanah jarang.

Menurutnya, pengembangan sumber daya mineral tidak dapat dilakukan secara parsial sehingga membutuhkan keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

“Perguruan tinggi akan mengambil peran semaksimal mungkin agar pengelolaan sumber daya mineral dapat memberikan nilai tambah bagi daerah dan masyarakat,” ujar Ibrahim.

Dalam seminar tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengapresiasi UBB yang dinilai mampu menghadirkan forum berkualitas dengan melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan.

“Kami memberikan apresiasi kepada UBB yang pada hari ini melaksanakan seminar yang berkualitas dan memiliki nilai kontribusi dalam ikut memikirkan penyempurnaan tata kelola dan ekosistem logam tanah jarang,” kata Bambang.

Menurut Bambang, kehadiran akademisi, politisi, pelaku industri hingga perusahaan sektor mineral menjadi modal penting dalam merumuskan tata kelola logam tanah jarang yang lebih baik.

Ia berharap hasil seminar tersebut dapat menjadi masukan bagi DPR RI, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), maupun pelaku industri dalam menyusun kebijakan pengembangan logam tanah jarang nasional.

“Mudah-mudahan ada hal yang bisa diberikan oleh UBB dalam seminar ini kepada kami di pusat, di DPR, dan juga kepada Kementerian ESDM terkait masukan-masukan dalam memperbaiki dan menyusun tata kelola logam tanah jarang yang baik serta mendukung perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Bambang menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sebatas regulasi, melainkan penguasaan teknologi pemrosesan logam tanah jarang. Selama ini Indonesia baru mampu memperoleh mineral ikutan hasil penambangan timah seperti monasit, xenotim, ilmenit, dan mineral lainnya, namun belum menguasai teknologi untuk mengolahnya menjadi unsur logam tanah jarang.

“Selama ini kita baru berhenti pada tahap ekstraktifnya. Baru mendapatkan monasit, xenotim, ilmenit dan seterusnya. Yang belum adalah pemrosesan lebih lanjut,” katanya.

Menurut Bambang, logam tanah jarang di Bangka Belitung merupakan mineral ikutan dari timah yang terkandung dalam monasit, xenotim, dan sejumlah mineral lainnya. Karena itu, penguasaan teknologi menjadi kunci agar Indonesia memperoleh nilai tambah dari sumber daya tersebut.

“Teknologi untuk itu kita belum memiliki. Dan teknologi yang paling maju saat ini dikuasai oleh China. Sampai sekarang belum terkonfirmasi adanya alih teknologi. Mereka baru mau bahan bakunya. Nah, kita tidak ingin berhenti di situ. Kita ingin punya teknologi, kita kelola, dan kita produksi sendiri di Indonesia,” tegasnya.

Terkait potensi LTJ di Bangka Belitung, Bambang menyebut daerah ini memiliki cadangan yang cukup menjanjikan berdasarkan pemetaan nasional. Namun ia menekankan perlunya kajian lebih rinci untuk memastikan nilai keekonomian cadangan tersebut.

“Kalau dari peta yang ada, kita memiliki cadangan logam tanah jarang yang cukup banyak. Tetapi perlu dilakukan pemetaan lebih detail lagi. Karena logam tanah jarang ini memang ada di banyak lokasi di Bangka, namun persoalannya apakah memiliki nilai ekonomis atau tidak. Itu harus dihitung berdasarkan kandungan dan kelayakannya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar seluruh pihak tidak terburu-buru membesar-besarkan potensi yang ada tanpa didukung data ilmiah yang akurat.

“Barangnya memang banyak, tetapi kita jangan mengglorifikasi data. Yang paling penting adalah memastikan data yang akurat dan nilai ekonominya,” kata Bambang.

Melalui seminar nasional ini, UBB berharap lahir berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat regulasi, mendorong penguasaan teknologi, serta mempercepat hilirisasi logam tanah jarang sehingga mampu meningkatkan nilai tambah industri mineral nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.