Oleh : Fitria Imelda (Mahasiswi Jurusan Manajemen, Universitas Bangka Belitung)
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti kuliah yang disampaikan langsung oleh perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung. Sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari bank dan lembaga keuangan bukan bank, sesi itu membuka mata saya bukan hanya soal teori, tapi soal kondisi nyata daerah tempat saya tinggal. Banyak hal menarik yang dibahas, tapi ada satu angka yang terus saya pikirkan setelah sesi itu selesai: 4,09 persen.
Itulah angka pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung sepanjang 2025, naik signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya 0,77 persen. Kabar yang melegakan, memang. Tapi yang membuat saya tidak bisa langsung puas adalah konteks yang ikut disampaikan saat itu angka 4,09 persen ini sebenarnya belum menyentuh puncak yang pernah kita capai sebelumnya.
Coba kita lihat datanya. Babel pernah tumbuh 5,22 persen di tahun 2013 itu adalah puncak tertinggi yang pernah dicatat BPS. Setelah itu, ekonomi kita mulai melorot perlahan: 4,68 persen di 2014, lalu 4,08 persen di 2015, dan terus melemah seiring menurunnya harga timah di pasar dunia. Hingga akhirnya menyentuh titik terendah di 2024, hanya 0,77 persen. Baru di 2025 ini kita mulai bangkit lagi ke 4,09 persen.
Jadi menurut pemahaman saya sebagai mahasiswa yang sempat menyimak langsung data ini dari Bank Indonesia 4,09 persen itu bukan puncak. Itu baru pemulihan. Babel belum kembali ke level terbaiknya, apalagi melampauinya. Dan pertanyaan saya sejak kuliah itu sampai sekarang tetap sama: kalau kita ingin benar-benar tumbuh melampaui angka 2013, siapa yang akan mendorong dari dalam? Salah satu jawabannya, menurut saya, ada pada lembaga keuangan, khususnya bagaimana KUR disalurkan kepada pelaku usaha kecil yang jadi tulang punggung pemulihan ini.
Siapa yang Menggerakkan Angka Itu?
Pertumbuhan 2025 bukan terjadi begitu saja. Bank Indonesia mencatat sektor pertanian dan perikanan tumbuh 5,78 persen, perdagangan naik 6,55 persen, dan sektor akomodasi serta makan minum melonjak 22,68 persen didorong menjamurnya kafe, warung makan, dan program Makan Bergizi Gratis.
Pelakunya siapa? Sebagian besar adalah pelaku UMKM. Warung kopi di Sungailiat, pedagang ikan di Tanjung Batu, petani lada di Petaling, penginapan kecil di Belitung. Merekalah yang menggerakkan angka itu dari bawah.
Tapi ada pertanyaan yang jarang diajukan dan ini yang justru sering saya pikirkan dari sudut mata kuliah yang saya ambil: modal mereka dari mana ya?
KUR Ada, Tetapi Belum rata
Pemerintah punya KUR/Kredit Usaha Rakyat yang dirancang khusus untuk pelaku usaha kecil. Bunganya ringan, 6 persen per tahun untuk KUR Mikro, bahkan 3 persen untuk KUR Super Mikro. Bank Sumsel Babel sendiri tahun 2025 ini menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp208 miliar khusus untuk wilayah Bangka Belitung, mencakup sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan.
Angka itu memang ada. Tapi dari apa yang saya pelajari, ada jarak yang cukup jauh antara kebijakan yang tertulis di atas kertas dengan apa yang benar-benar dirasakan pelaku usaha di lapangan. Rp208 miliar untuk seluruh Babel dengan ratusan ribu pelaku UMKM yang tersebar dari Muntok sampai Manggar tetap perlu kita pertanyakan apakah sudah cukup menjangkau semua yang butuh.
Belum lagi hambatan di lapangan. Syarat usaha minimal berjalan enam bulan, dokumen administrasi yang tidak sedikit, dan lokasi kantor bank yang masih terpusat di kota membuat banyak pelaku usaha kecil di pelosok tidak pernah benar-benar menyentuh KUR. Mereka tahu programnya ada, tapi tidak tahu caranya, atau tidak punya waktu untuk mengurusnya.
Dan ketika KUR tidak menjangkau, masyarakat tidak berhenti mencari modal. Mereka hanya berpindah ke sumber lain yang lebih mudah dan OJK Babel sendiri mengakui pengaduan pinjol ilegal terus meningkat. Itu sinyal yang menurut saya tidak bisa diabaikan.
Tumbuh, Tapi Fondasinya Belum Kuat
Inilah yang saya maksud ketika bilang 4,09 persen itu baru pemulihan, bukan puncak. Pertumbuhan yang terjadi sekarang sebagian besar masih berjalan di atas modal sendiri atau pinjaman informal. Ketika modal habis, ekspansi berhenti. Dan kalau ekspansi berhenti, angka pertumbuhan bisa kembali melorot seperti yang sudah pernah kita alami antara 2013 sampai 2024 itu. Untuk benar-benar melampaui angka 5,22 persen yang pernah kita capai di 2013 apalagi secara berkelanjutan Babel butuh lebih dari sekadar momentum sesaat. Butuh ekosistem pembiayaan yang menjangkau pelaku usaha di semua lapis, bukan hanya mereka yang sudah punya rekam jejak dan agunan.
Apa yang Perlu Berubah?
Dari apa yang saya pelajari di bangku kuliah maupun dari diskusi langsung dengan Bank Indonesia, ada tiga hal yang menurut saya perlu dibenahi.
Pertama, target KUR di Babel perlu dievaluasi relevansinya. Rp208 miliar di tengah momentum pemulihan ini perlu dikaji ulang, terutama untuk menyentuh pelaku usaha yang baru merintis di luar kota. Kedua, bank-bank penyalur KUR perlu lebih aktif turun ke lapangan bukan hanya menunggu pengajuan masuk ke kantor.
Pendampingan dokumen bagi pelaku usaha yang belum paham prosedur adalah bagian dari tanggung jawab itu. Ketiga, pemerintah daerah perlu hadir sebagai jembatan. Dinas Koperasi dan UMKM Babel bisa memainkan peran lebih besar dalam membantu pelaku usaha kecil mempersiapkan syarat KUR, sehingga program ini tidak hanya bagus di atas kertas.
Penutup
Angka 4,09 persen itu membanggakan. Tapi bagi saya sebagai anak muda Babel yang baru mulai memahami bagaimana ekonomi daerah ini bekerja justru karena tahu bahwa kita pernah ada di 5,22 persen dulu, dan pernah jatuh ke 0,77 persen, angka ini lebih terasa sebagai pengingat daripada perayaan.
Babel sedang dalam perjalanan pulih. Dan lembaga keuangan, menurut saya, punya tanggung jawab moral untuk memastikan perjalanan itu tidak berhenti di tengah jalan hanya karena pelaku usaha kecil tidak bisa menembus pintu bank. KUR bukan satu-satunya jawaban, tapi sebagai instrumen paling konkret yang kita punya sekarang. Kalau kita serius ingin melampaui puncak 2013, saatnya KUR bekerja lebih keras bukan hanya tersedia, tapi benar-benar menjangkau.







