Penulis : James Okto Irwan (Kepala Seksi Kehumasan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)
Pada saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), Pemerintah kerap kali menghimbau masyarakat untuk bijak berbelanja. Hal ini dikarenakan pada saat HBKN terjadi peningkatan permintaan masyarakat terhadap bahan pangan dibandingkan biasanya. Perayaan HBKN menjadi momen yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga besar dan menyantap menu-menu andalan.
Namun, peningkatan permintaan tersebut juga dapat diikuti dengan peningkatan harga bahan pangan atau yang disebut dengan inflasi. Sejalan dengan teori ekonomi, kenaikan harga terjadi ketika permintaan terhadap barang meningkat, namun tidak diimbangi dengan ketersediaan stok yang cukup.
Di sisi lain, peningkatan permintaan masyarakat menjelang HBKN bisa saja bukan karena kebutuhan. Namun didorong oleh efek psikologis yaitu ketakutan tidak kebagian bahan pangan atau ketakutan kenaikan harga pangan yang lebih tinggi. Pada akhirnya menyebabkan panic buying dan malah terjadi penimbunan bahan pangan di rumah.
Grafik 1. Perkembangan Inflasi Kepulauan Bangka Belitung Secara Tahunan (YoY)

Jika melihat kondisi inflasi di Bangka Belitung, dapat dilihat bahwa pada momen bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, tingkat inflasi relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Meskipun, tingkat inflasinya masih berada pada level yang terjaga.
Inflasi memberikan gambaran terjadinya kenaikan harga barang dan/atau jasa secara umum dan terus menerus. Pada HBKN, terjadinya inflasi dapat memberikan gambaran terjadinya peningkatan permintaan masyarakat.
Di sisi lain, Bangka Belitung bukan merupakan daerah produsen sehingga masih tergantung dari daerah lain yang merupakan sentra produksi. Tentu saja kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Apabila stok terganggu yang disebabkan oleh gangguan produksi maupun distribusi, maka dapat mendorong peningkatan harga pangan lebih tinggi.
Kemudian, kontribusi apa yang dapat kita lakukan? Hal mendasar yang perlu dipahami adalah menjaga stabilitas inflasi bukan hanya menjadi tugas negara. Masyarakat turut memiliki peran penting dan justru menjadi kunci keberhasilan dalam pengendalian inflasi, khususnya yang bersumber dari bahan pangan. Karena itu, hal yang dapat dilakukan yaitu Pertama, jangan berbelanja secara berlebihan, lakukan perencanaan belanja yang rasional yakni sesuai kebutuhan bukan keinginan. Masyarakat jangan takut tidak kebagian bahan pokok yang justru mendorong tindakan impulsif panic buying sehingga justru mengakibatkan penimbungan barang. Belanjalah secara rasional, sehingga dapat turut menjaga pasar tetap tenang dan permintaan yang lebih stabil.
Kedua, diversifikasi pangan, masyarakat sebaiknya tidak bergantung pada satu jenis komoditas pangan tertentu. Di Bangka Belitung, karakteristik masyarakatnya lebih menyukai untuk mengkonsumsi ikan laut. Ketika stok komoditas ini berkurang di pasar, maka akan mengakibatkan terjadinya kenaikan harga. Oleh karena itu, untuk meredam kenaikan harga yang lebih tinggi, masyarakat bisa melakukan substitusi ikan laut dengan ikan air tawar yang lebih murah. Selanjutnya, jika harga cabai merah segar lagi naik, maka masyarakat dapat mengkonsumsi cabai olahan atau cabai kering.
Ketiga, memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam tanaman hortikultura. Masyarakat dapat menanam cabai merah menggunakan polybag dan menempatkannya di pekarangan rumah. Satu polybag cabai merah umumnya dapat menghasilkan 250 gram hingga 1 kg lebih selama masa panen, cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Gerakan ini akan efektif dalam menahan laju inflasi pangan jika dilakukan secara masif dan berkelanjutan.
Keempat, berkonsumsi dengan bijak sehingga tidak membuang-buang makanan. Kerap kali ketika kita melihat makanan tertentu rasanya ingin membeli semua makanan tersebut. Hal ini sering kali dikenal di masyarakat sebagai sebuah konsep lapar mata yang mana belum tentu makanan tersebut dapat dihabiskan seluruhnya. Oleh karena itu, perlu dipahami sebuah konsep ambil secukupnya dan habiskan sepenuhnya agar tidak membuang-buang makanan yang justru menjadi sampah baru. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup bahwa sampah sisa makanan menyumbang sebesar 40,76% dari total sampah yang ada. Hal ini perlu diantisipasi agar tidak menambah jumlah sampah sisa makanan.

Pada akhirnya inflasi menjadi bagian penting yang tetap harus dijaga kestabilannya, bukan untuk diwujudkan serendah-rendahnya. Inflasi yang rendah dan stabil sangat dibutuhkan sebagai bahan bakar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal tersebut, beban dan tanggung jawab tidak hanya menjadi tugas negara. Masyarakat juga memiliki peran penting, dan salah satu yang dapat dilakukan yakni dengan menjaga inflasi dari meja makan.







