oleh : Muhammad Rayhan Ar Ra’uf (Mahasiswa Program Studi S1 Hukum Universitas Bangka Belitung)
Bangka Belitung dikenal luas sebagai negeri timah. Sejak ratusan tahun lalu,logam berwarna perak keabu abuan itu menjadi sumber rezeki bagi masyarakat. Dari hasil tambang, banyak keluarga bisa menghidupi keluargnya mulai dari menyekolahkan anak, membangun rumah, hingga menggerakkan roda ekonomi lokal.
Namun di balik gemerlap timah yang menghidupi, tersimpan sisi kelam yang tak bisa diabaikan kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial,dan ancaman terhadap masa depan pulau pulau indah ini.Tambang timah memang memberi rezeki,tapi apakah rezeki itu berkelanjutan? Banyak bekas tambang kini berubah menjadi danau raksasa yang berwarna keruh, tak lagi bisa ditanami atau dijadikan lahan produktif.
Air tanah menjadi tercemar,sungai meluap di musim hujan,dan pesisir yang dulunya asri kini terkikis oleh aktivitas tambang laut. Ironisnya,keuntungan besar justru banyak mengalir ke luar daerah,sementara warga setempat menanggung beban lingkungan yang rusak.
Kegiatan tambang timah ilegal memperparah keadaan.Banyak yang beroperasi tanpa izin dan tanpa memperhatikan keselamatan kerja maupun dampak ekologis. Aparat seringkali kewalahan atau bahkan tutup mata terhadap aktivitas tambang liar ini.
Di sisi lain,kebutuhan ekonomi membuat masyarakat sulit untuk berhenti menambang. Bagi sebagian warga,menambang adalah satu-satunya cara bertahan hidup. Namun, kita tidak bisa selamanya bergantung pada timah.
Cadangan alam ini terbatas,dan ketika habis,apa yang akan tersisa? Lubang lubang tambang,hutan gundul, dan laut yang tercemar bukanlah warisan yang pantas untuk anak cucu kita. Sudah saatnya pemerintah,perusahaan,dan masyarakat mencari jalan baru: mengembangkan pariwisata berkelanjutan, memperkuat sektor perikanan dan pertanian, serta memulihkan lingkungan yang rusak melalui reklamasi dan konservasi.
Bangka Belitung seharusnya tak hanya dikenal sebagai “pulau timah,” tetapi juga sebagai contoh keberhasilan daerah yang bisa bangkit dari ketergantungan terhadap tambang.Alam yang dulu dieksploitasi bisa disembuhkan, jika ada kesadaran dan kemauan bersama.
Rezeki sejati bukan hanya yang datang dari perut bumi,tapi juga dari kebijaksanaan kita menjaga bumi itu sendiri. Maka pertanyaan besar bagi kita semua adalah: apakah kita ingin Bangka Belitung menjadi simbol kemakmuran yang lestari, atau tinggal cerita tentang rezeki yang berubah jadi petaka
Sumber:
https://mongabay.co.id/2024/12/29/tambang-timah-dan-ancaman-kerusakan-daratan-kepulauan-bangka-belitung/Nopri Ismi. (2024). Tambang Timah dan Ancaman Kerusakan Daratan Kepulauan Bangka Belitung.








