Oleh : Nadiyah Luhtifyyah Putri (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung)
Kondisi ekonomi di Indonesia kian mengkhawatirkan dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pergerakan nilai rupiah yang fluktuatif ini merupakan tamparan keras yang harus ditanggung masyarakat Indonesia terutama bagi kelompok rakyat miskin yang paling rentan menghadapi gejolak ekonomi.
Melemahnya nilai tukar rupiah ini mengakibatkan harga barang impor dan kebutuhan pokok naik sangat tajam. Karena banyak barang barang kebutuhan pokok mulai dari beras, minyak goreng, bahan pangan, bahan bakar, dan elektronik masih mengandalkan barang barang impor. Bagi masyarakat miskin yang sudah mengatur pengeluarannya dengan sangat minim dan hidup pas-pasan, kenaikan harga ini semakin menyiksa keadaan ekonomi mereka yang membuat daya beli masyarakat menurun dengan seiringnya waku, karena uang mereka menjadi cepat habis sedangkan kebutuhan pokok lainnya semakin sulit untuk terpenuhi.
Kondisi ini semakin diperburuk dengan banyaknya investor yang enggan berinvestasi atau menambah tenaga kerja membuat lapangan perkerjaan semakin sedikit yang mengakibatkan masyarakat semakin susah untuk mendapatkan perkerjaan dan berdampak bagi pendapatan mereka. Apalagi banyak sekali masyarakat kelas bawah yang bergantung pada pekerjaan informal atau usaha kecil-kecilan, seperti pedagang kaki lima, tukang ojek, buruh harian, warung kelontong merasakan langsung kondisi mencekik ini karena daya beli yang melemah.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: nilai rupiah menurun, harga kebutuhan pokok meningkat, penghasilan menurun, konsumsi menurun, usaha banyak yang bangkrut, angka pengangguran meningkat dan yang miskin semakin miskin.Untuk memutus lingkaran setan ini pemerintah perlu menghadirkan kebijakan nyata yang berpihak pada rakyat kecil, seperti subsidi yang tepat sasaran, pengendalian kebutuhan pokok, serta perlindungan dan pemberdayaan bagi pelaku usaha mikro informal.
Pemerintah harus peka dengan ancaman ini karena di tengah situasi ekonomi ini rakyat miskin tidak bisa bertahan sendirian tanpa bantuan. Masyarakat juga bisa ikut berkontribusi untuk melakukan langkah-langkah adaptif untuk menjaga kestabilan kondisi keuangan dengan cara memprioritaskan dana untuk kebutuhan pokok, mencari penghasilan tambahan dengan berjualan online atau freelance, dan mendukung perkonomian dalam negeri dengan hanya membeli barang lokal dan bukan impor.
Di tengah gempuran ekonomi global, gotong royong antara negara dan rakyat menjadi kunci agar Indonesia bisa bangkit, tanpa meninggalkan yang paling rentan di belakang.







