Oleh: Wendi (Mahasiswa Jurusan Manajemen, Universitas Bangka Belitung)
Sebagai mahasiswa Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, saya sering bertanya-tanya mengapa begitu banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia yang tidak bertahan lama.
Kita tahu bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional, menyumbang lebih dari 60% terhadap PDB dan menyerap jutaan tenaga kerja. Tapi ironisnya, banyak dari mereka tutup dalam waktu singkat.
Menurut saya, kegagalan ini bukan sekadar soal modal atau persaingan, tetapi lebih dalam: antara salah perencanaan dan kurangnya edukasi.Pertama, saya melihat banyak UMKM memulai bisnis tanpa rencana yang jelas.
Banyak pelaku usaha memulai hanya berdasarkan naluri atau karena melihat tren sesaat, tanpa analisis mendalam terhadap pasar, pesaing, atau kebutuhan pelanggan.
Tidak sedikit dari mereka yang bahkan tidak tahu apa itu analisis SWOT, bagaimana menyusun proyeksi keuangan, atau bagaimana menentukan strategi pemasaran. Akibatnya, ketika kondisi pasar berubah, mereka kewalahan dan tidak tahu harus bagaimana.
Namun, saya percaya bahwa akar masalahnya bukan hanya pada kurangnya perencanaan, tapi karena rendahnya edukasi tentang manajemen bisnis itu sendiri. Banyak pelaku UMKM yang tidak memiliki latar belakang pendidikan bisnis, dan tidak pernah mendapatkan pelatihan dasar tentang keuangan, operasional, atau strategi pemasaran.
Bahkan hal sesederhana pencatatan keuangan pun masih dianggap remeh. Tanpa pemahaman itu, bagaimana bisa membuat perencanaan yang baik?
Menurut saya, perencanaan yang buruk adalah gejala, sedangkan kurang edukasi adalah penyakit utamanya. Maka solusinya bukan hanya menyuruh pelaku usaha membuat rencana bisnis, tapi memberikan mereka pemahaman dasar tentang manajemen.
Edukasi ini bisa melalui pelatihan praktis, pendampingan dari kampus atau lembaga, atau bahkan kerja sama antara mahasiswa dan UMKM sebagai bentuk pengabdian masyarakat.
Sebagai mahasiswa Manajemen, saya merasa kita punya tanggung jawab moral untuk terlibat. Pengetahuan yang kami pelajari di kelas tidak akan berarti jika tidak bisa membantu dunia nyata.
Mungkin sudah saatnya kampus dan mahasiswa berperan lebih aktif dalam mendampingi UMKM, bukan hanya meneliti mereka.
Kesimpulannya, saya percaya bahwa kegagalan UMKM bukan semata-mata karena mereka tidak punya rencana, tetapi karena mereka tidak pernah diajarkan cara membuatnya. Edukasi manajemen yang sederhana, relevan, dan praktis adalah kunci agar UMKM bisa bertahan dan tumbuh, bukan hanya muncul lalu hilang.







