Bank Indonesia di Tengah Badai Pelemahan Rupiah: Antara Strategi dan Realita Ekonomi Menghantam

by -304 Views
Foto : Ilustrasi (Istimewah)

Oleh: Aldi Roshan Maha, Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung (UBB)

Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah memang menunjukkan tren pelemahan yang signifikan. Data menunjukkan, nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp17.666 hingga Rp17.719 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026. Kondisi ini bukan tanpa sebab. Faktor global seperti ketidakpastian ekonomi dunia, kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed), serta tingginya kebutuhan impor, khususnya minyak mentah, menjadi pemicu utama tekanan terhadap mata uang Garuda.

Namun, di tengah kondisi ini, muncul narasi di platform TikTok yang mengklaim bahwa pelemahan rupiah adalah bagian dari “strategi” pemerintah atau Bank Indonesia. Video-video dari akun TikTok seperti @millenialzkece menyoroti isu tersebut dan memicu pertanyaan serta kekhawatiran di kalangan warganet.

Meluruskan Miskonsepsi: Pelemahan Rupiah Bukan Strategi yang Menguntungkan Rakyat

Menanggapi narasi tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, melalui akun TikTok pribadinya, dengan tegas membantah klaim bahwa pelemahan rupiah merupakan strategi yang menguntungkan masyarakat. Menurutnya, pelemahan mata uang justru berdampak langsung dan negatif terhadap biaya hidup masyarakat serta biaya operasional dunia usaha.

“Ketika rupiah melemah, dampaknya langsung terasa ke biaya hidup, biaya usaha, hingga tekanan terhadap masyarakat,” ujar Rhenald Kasali dalam videonya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi ekonomi setiap negara berbeda sehingga menganggap pelemahan mata uang sebagai strategi sederhana adalah pandangan yang keliru. Biaya produksi akan meningkat, harga barang impor melonjak, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok masyarakat seperti tahu, tempe, hingga mi instan berpotensi ikut naik.

Langkah Tegas Bank Indonesia Menjaga Stabilitas

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter tidak tinggal diam menghadapi tekanan ini. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19–20 Mei 2026, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Kebijakan ini diambil sebagai langkah preemptive dan forward looking untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan inflasi.

Selain kenaikan suku bunga, BI juga melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). Akun TikTok @aliftowew sempat membahas kebijakan BI membeli SBN sebesar Rp111 triliun sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah. Intervensi ini bertujuan menambah pasokan dolar AS di pasar dan mengurangi tekanan jual terhadap rupiah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas rupiah. Ia bahkan menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada Juli hingga Agustus 2026.

Dampak dan Respons Publik

Pelemahan rupiah tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi isu politik. Gubernur BI Perry Warjiyo sempat dicecar DPR RI terkait anjloknya rupiah. Presiden Prabowo Subianto juga dilaporkan memanggil sejumlah menteri ke Istana untuk membahas kondisi tersebut. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dampak pelemahan rupiah terhadap berbagai sektor.

Bagi masyarakat, dampak langsung terasa pada daya beli. Kenaikan harga barang impor dan bahan baku yang bergantung pada dolar AS akan membebani anggaran rumah tangga. Sementara itu, bagi dunia usaha, terutama yang memiliki komponen impor tinggi, biaya produksi akan membengkak sehingga berpotensi mengurangi profitabilitas dan bahkan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila tidak dikelola dengan baik.

Belajar dari Sejarah: Upaya Penguatan Rupiah di Masa Lalu

Dalam konteks upaya penguatan rupiah, penting untuk melihat kembali sejarah. Alif Towew juga menyinggung strategi yang dilakukan Presiden B. J. Habibie dalam menyelamatkan Indonesia dari krisis moneter dan menguatkan kembali rupiah. Pembelajaran dari masa lalu dapat memberikan perspektif berharga dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

Kesimpulan

Pelemahan nilai tukar rupiah merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik domestik maupun global. Klaim bahwa pelemahan ini adalah “strategi” pemerintah atau Bank Indonesia merupakan miskonsepsi yang perlu diluruskan, mengingat dampak negatifnya terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Bank Indonesia telah dan akan terus mengambil langkah-langkah kebijakan moneter yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai isu ini sangat penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak akurat di media sosial.

Referensi

  1. Kompas.com. (2026, Mei 15). Rupiah Sempat Tembus Rp17.600 per US$, BI Bakal Naikkan Suku Bunga.
  2. KOMPAS.TV. (2026, Mei 18). Rupiah Anjlok, Menteri Keuangan Purbaya…
  3. IPB University. (2025, April 21). Rupiah Tertekan, Pakar Ekonomi IPB University Urai Faktor-faktor Penyebabnya.
  4. TikTok @millenialzkece. (2026). Bank Indonesia Disebut Sengaja Lemahkan Rupiah.
  5. TikTok Rhenald Kasali. (2026). Banyak Orang Mulai Mengatakan Pelemahan Rupiah Adalah…
  6. Kompas.com. (2026, Mei 15). Rupiah Tembus Rp17.600 per Dollar AS, Barang Apa Saja yang Berpotensi Naik?
  7. Tribunnews Aceh. (2026, Mei 15). Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Harga Tahu Tempe hingga Mi Instan Terancam Naik.
  8. Kontan.co.id. (2026, Mei 20). BI Rate Mei 2026 Naik 50 Bps Jadi 5,25% di Tengah Pelemahan Rupiah.
  9. CNBC Indonesia. (2026, Mei 20). Breaking News! BI Rate Naik Jadi 5,25% di Mei 2026.
  10. TikTok @aliftowew. (2026). Viral! Rupiah Melemah 17.600, Apakah Tidak Berdampak ke Rakyat?
  11. Instagram. (2026, Mei 19). Perry Warjiyo Meyakini Rupiah Akan Kembali Menguat.
  12. Instagram. (2026, Mei 19). Perry Warjiyo Dicecar DPR RI Imbas Anjloknya Rupiah.
  13. Instagram. (2026, Mei 15). Prabowo Panggil Menteri Bahas Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.