Dari Timah ke Data: Mencari Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Bangka Belitung

by -616 Views
Foto: Rogrius Sinuligga (Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung)

Oleh: Rogrius Sinulingga
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

Bangka Belitung memiliki banyak hal yang dapat ditawarkan kepada dunia. Ada timah, pantai, geopark, kuliner, produk UMKM, hasil perikanan, hingga kreativitas masyarakat. Namun, di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan: apakah kita masih terlalu sibuk menggali kekayaan dari dalam tanah, sementara kekayaan baru justru menunggu kita baca dari data?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kita melihat perkembangan ekonomi daerah. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Bangka Belitung pada 2025 tumbuh 4,09 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,77 persen pada 2024. Beberapa sektor juga menunjukkan perkembangan yang menarik. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 22,68 persen, jasa perusahaan 15,23 persen, serta transportasi dan pergudangan 13,13 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi Bangka Belitung mulai bergerak melalui sektor yang lebih beragam.

Namun, timah masih memegang peranan besar. Pada Juni 2026, nilai ekspor timah mencapai US$167,61 juta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai diversifikasi ekonomi Bangka Belitung masih menjadi pekerjaan rumah yang penting. Kita tidak sedang berbicara tentang meninggalkan timah, tetapi tentang membangun sumber pertumbuhan lain agar perekonomian daerah tidak bergantung pada satu kekuatan saja.

Jangan Hanya Bertanya “Berapa Banyak?”

Selama ini, kita terbiasa melihat ekonomi melalui angka produksi, nilai investasi, ekspor, jumlah wisatawan, dan pertumbuhan ekonomi. Semua indikator tersebut penting. Namun, perkembangan ekonomi digital membuat kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih jauh. Mengapa konsumen memilih suatu produk? Mengapa wisatawan datang ke satu destinasi dan tidak ke destinasi lainnya? Produk apa yang paling diminati? Konten seperti apa yang membuat orang tertarik membeli? Mengapa pelanggan kembali, atau justru berpindah kepada pesaing?

Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan memanfaatkan data yang muncul dari aktivitas sehari-hari. Pencarian internet, transaksi marketplace, komentar pelanggan, media sosial, hingga pola kunjungan dapat memberikan gambaran mengenai perilaku pasar. Di sinilah digital analytics menjadi penting. Bagi pelaku usaha, digital analytics bukan sekadar mengumpulkan angka. Intinya adalah membaca pola dari berbagai informasi yang tersedia sehingga keputusan bisnis tidak hanya mengandalkan perkiraan.

Bangka Belitung Sudah Memiliki “Tambang Data”

Pariwisata merupakan contoh yang mudah kita lihat. Pada Juli 2026, perjalanan wisatawan nusantara ke Bangka Belitung mencapai 407,10 ribu perjalanan. Pada periode yang sama, jumlah tamu yang menginap mencapai 75,56 ribu orang dan meningkat 38,81 persen dibandingkan Juli 2025. Tingkat penghunian kamar hotel berbintang juga mencapai 33,74 persen. Angka tersebut tentu menggembirakan. Namun, bagi pelaku usaha, angka kunjungan saja belum cukup. Kita perlu mengetahui siapa wisatawan tersebut, dari mana mereka berasal, destinasi apa yang mereka cari, berapa lama mereka tinggal, apa yang mereka beli, dan apa yang membuat mereka ingin kembali.

Jika kita hanya menghitung jumlah wisatawan, kita memperoleh angka. Jika kita mencoba memahami perilaku wisatawan, kita memperoleh gambaran mengenai kebutuhan pasar. Bayangkan apabila pelaku usaha pariwisata mengetahui bahwa kelompok wisatawan tertentu lebih tertarik pada wisata alam, sementara kelompok lainnya lebih menyukai kuliner atau pengalaman budaya. Informasi tersebut dapat membantu mereka membuat paket wisata, menentukan promosi, memilih media yang tepat, dan mengembangkan produk yang sesuai. Dengan cara seperti itu, data tidak hanya menjawab berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi juga membantu menjawab mengapa mereka datang dan bagaimana kunjungan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal.

UMKM Tidak Cukup Hanya Menjadi Viral

Hal yang sama berlaku bagi UMKM. Saat ini semakin banyak pelaku usaha menggunakan Instagram, TikTok, marketplace, dan berbagai platform digital untuk memasarkan produknya. Namun, bukan berarti usaha telah memanfaatkan teknologi secara optimal. Jumlah pengikut tidak selalu berarti jumlah pelanggan. Banyak likes tidak otomatis menghasilkan omzet. Video yang ditonton ribuan kali belum tentu menghasilkan penjualan. Karena itu, pelaku usaha perlu memperhatikan data aktivitas usahanya. Misalnya, data penjualan menunjukkan produk yang paling diminati, data pelanggan dapat mengenali kelompok konsumen, interaksi media sosial menunjukkan konten yang menarik perhatian, dan data transaksi bisa mencerminkan apakah promosi menghasilkan pembelian atau tidak.

BPS bahkan telah menggunakan Mobile Positioning Data untuk melihat perjalanan wisatawan nusantara. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai pola perjalanan wisatawan menurut wilayah. Perkembangan ini menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu kita memahami pergerakan ekonomi masyarakat secara lebih rinci. Persoalannya sekarang bukan apakah data tersedia, melainkan apakah pelaku usaha mampu menggunakannya.

Mesin Pertumbuhan Tidak Harus Berbentuk Tambang

Ketika membicarakan sumber pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung, kita sering membayangkan pertambangan, perdagangan, industri, dan investasi. Padahal, ekonomi modern juga menghasilkan nilai melalui pengetahuan, kreativitas, informasi, dan kemampuan memahami kebutuhan pasar. Pariwisata menghasilkan informasi mengenai perilaku wisatawan. UMKM menghasilkan data mengenai transaksi dan pelanggan. Marketplace menunjukkan perubahan permintaan. Media sosial memperlihatkan minat masyarakat. Transportasi memberikan gambaran mengenai mobilitas. Perguruan tinggi menghasilkan penelitian dan pengetahuan.

Jika berbagai informasi tersebut dikelola dengan baik, Bangka Belitung sebenarnya memiliki sumber daya baru yang tidak berada di bawah tanah. Sumber daya tersebut adalah data. Namun, data tidak otomatis menghasilkan nilai. Kita membutuhkan SDM yang mampu membaca dan mengolahnya. Karena itu, investasi pada kemampuan manusia sama pentingnya dengan investasi pada teknologi.

Dari Timah ke Data Bukan Berarti Meninggalkan Timah

Gagasan “Dari Timah ke Data” bukan berarti Bangka Belitung harus meninggalkan timah. Yang perlu kita ubah adalah cara berpikir bahwa pertumbuhan ekonomi harus bergantung pada timah saja. Kita membutuhkan lebih banyak mesin pertumbuhan. Pariwisata dapat menjadi salah satunya. UMKM dan ekonomi kreatif dapat menjadi penggerak lainnya. Perikanan, pertanian, industri pengolahan, dan berbagai usaha berbasis potensi lokal juga memiliki peluang yang besar.

Data kemudian dapat membantu sektor-sektor tersebut memahami pasar dan menentukan langkah dengan lebih tepat. Tantangannya bukan sekadar mengumpulkan lebih banyak data, tetapi bagaimana mengubah data menjadi keputusan dan keputusan menjadi nilai ekonomi. Kita tidak boleh puas hanya karena UMKM sudah masuk marketplace, destinasi wisata sudah memiliki media sosial, atau pemerintah sudah memiliki dashboard. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah semua itu membantu menghasilkan produk yang lebih sesuai, pelayanan yang lebih baik, dan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat?

Timah Mengajarkan Kita Bagaimana Menggali Sumber Daya. Era Digital Mengajarkan Kita Bagaimana Membaca Peluang.

Karena itu, masa depan Bangka Belitung tidak harus memilih antara timah atau data. Kita membutuhkan keduanya dengan peran yang berbeda. Timah dapat tetap menjadi bagian dari ekonomi hari ini, sementara data harus mulai menjadi bagian dari cara kita merancang ekonomi masa depan.

Mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya, “Apa yang kita punya?” Kita juga perlu bertanya: “Apa yang dapat kita pelajari dari data tentang apa kebutuhan pasar?”

Dari pertanyaan itulah mesin pertumbuhan ekonomi baru Bangka Belitung dapat mulai dibangun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.