Pangkalpinang, Demokrasibabel.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah Pangkalpinang mengakui keramahan petugas dan lambatnya pelayanan masih menjadi keluhan masyarakat. Manajemen rumah sakit pun menyiapkan pengawasan dan sanksi bagi pegawai yang melanggar standar pelayanan.
Direktur RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, dr. Thamrin, mengatakan pihaknya tengah mengevaluasi akar permasalahan yang menyebabkan pelayanan belum berjalan optimal.
“Yang sering dengar soal keramahan. Kemudian, pelayanan yang belum cepat ya. Iya, masih lambat. Nah itu kami sudah evaluasi, mencari akar masalahnya, di mana sumbatan-sumbatan untuk yang pelayanan yang lambat tadi, dan tentunya sedang berproses ini,” kata Thamrin kepada media, Jumat (18/9/2026).
Untuk memperbaiki kualitas pelayanan, RSUD Depati Hamzah menggelar in-house training mengenai service excellence dan komunikasi efektif di ruang pertemuan Betason. Pelatihan selama dua hari itu diikuti sekitar 200 pegawai atau sepertiga dari total pegawai rumah sakit.
Thamrin mengatakan, pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya membangun budaya kerja yang profesional, responsif, serta berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.
“Jadi rumah sakit ingin membangun budaya yang profesional, responsif, dan berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien. Langkah salah satunya melalui in-house training service excellence ini,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pelatihan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk menghadirkan narasumber ahli, yakni Ns. Laurentina Nona Eda, S.Kep., M.Kep., seorang trainer nasional dan pakar keperawatan.
Menurut Thamrin, kolaborasi tersebut menjadi solusi untuk menghadirkan pelatihan berkualitas di tengah keterbatasan anggaran rumah sakit.
“Kami juga punya keterbatasan anggaran, dan kebetulan narasumber ini luar biasa sekali. Dari kerja sama kita dengan Kemenkes. Jadi, dengan budget yang kami punya, nah, beliau bisa membantu kami,” ungkapnya.
Pelatihan tersebut akan dilaksanakan secara berkelanjutan hingga seluruh pegawai diharapkan mampu menerapkan standar pelayanan prima dalam pekerjaan sehari-hari.
Thamrin berharap, peningkatan kualitas pelayanan dapat memberikan pengalaman positif bagi pasien dan keluarga, mulai dari keramahan petugas, kecepatan pelayanan, kejelasan komunikasi, hingga kemudahan akses layanan.
“Dengan adanya budaya ini, itu bisa menjadi semacam hal yang berkesan bagi klien kami maupun keluarganya. Waktu berkunjung ke rumah sakit, ini menjadi pengalaman yang positif,” jelasnya.
Untuk memastikan hasil pelatihan diterapkan, manajemen RSUD Depati Hamzah menunjuk sejumlah penanggung jawab atau person in charge (PIC) di setiap unit kerja. Mereka bertugas mengawasi perilaku tenaga kesehatan maupun non-tenaga kesehatan serta melaporkan hasil pengawasan secara berkala kepada direktur.
Thamrin menegaskan, pihaknya akan memberikan sanksi kepada pegawai yang terbukti melanggar komitmen pelayanan.
“Kontrolnya nanti tentunya fungsi paling penting itu di-controlling tadi ya, nanti ada PIC-nya, ini yang kami tunjuk. Itu yang akan melaporkan ke dokter (Direktur). Jika ada yang ditemukan masih melanggar, tentunya ya, kita akan berikan sanksi,” tegasnya.
Dia berharap seluruh peserta pelatihan dapat mengikuti kegiatan dengan serius sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh bisa diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
“Harapannya mereka dapat sungguh-sungguh mengikuti kegiatan ini, sehingga memperoleh wawasan dan keterampilan selama mengikuti pelatihan ini, dan yang paling penting itu dapat diterapkan dalam tugas keseharian mereka,” pungkas Thamrin.







