Dirut Jasa Raharja Paparkan Strategi Perlindungan Publik Berbasis AI di AIIF 2026

by -988 Views

Bandung, Demokrasibabel.com – Direktur Utama PT Jasa Raharja (Persero) Muhammad Awaluddin memaparkan strategi pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat perlindungan publik, mulai dari percepatan pelayanan korban kecelakaan hingga upaya memprediksi dan mencegah kecelakaan lalu lintas.

Paparan tersebut disampaikan Awaluddin dalam sesi panel “AI Mobility & Transportation Ecosystems” pada AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) 2026 yang digelar di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (27/8/2026).

Dalam forum yang mempertemukan regulator, akademisi, pelaku industri transportasi, dan praktisi teknologi itu, Awaluddin mengatakan pemanfaatan AI harus diarahkan untuk menghadirkan perlindungan publik yang lebih cepat, tepat, dan berorientasi pada pencegahan.

“Transformasi digital harus membawa perubahan nyata terhadap cara kita melindungi masyarakat. Dengan dukungan data dan AI, Jasa Raharja ingin bergerak dari pendekatan yang bersifat responsif menuju perlindungan yang semakin prediktif, preventif, dan preskriptif,” ujar Awaluddin.

Menurut dia, Jasa Raharja memiliki ekosistem pelayanan yang terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti Kepolisian, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, rumah sakit, Samsat, dan institusi terkait lainnya.

Kolaborasi serta integrasi data dalam ekosistem tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan sistem perlindungan publik berbasis teknologi.

Salah satu implementasi yang telah dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi dalam JR-Care untuk mendukung percepatan pelayanan kepada korban kecelakaan.

Melalui proses digitalisasi dan verifikasi dokumen, data korban serta informasi medis dapat diproses secara lebih cepat, konsisten, dan akurat. Dengan demikian, penerbitan surat jaminan bagi korban dapat dilakukan secara lebih efisien.

“Teknologi harus membuat korban semakin mudah memperoleh pelayanan. Prinsipnya tetap berpusat pada manusia. AI membantu proses pengambilan keputusan, tetapi empati, akuntabilitas, dan kepentingan korban harus tetap menjadi pusat dari setiap inovasi,” kata Awaluddin.

Jasa Raharja Kembangkan Tiga Fokus Pemanfaatan AI

Selain memperkuat layanan JR-Care, Jasa Raharja tengah mengembangkan tiga fokus pemanfaatan AI dalam mendukung perlindungan publik dan tata kelola perusahaan.

Pertama, AI-Based Accident Prediction and Prevention System yang diarahkan untuk memetakan wilayah rawan kecelakaan, mengenali pola kecelakaan, dan memberikan rekomendasi intervensi keselamatan.

Kedua, AI Predictive Collection untuk mendukung pemetaan tingkat kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).

Ketiga, AI Medical Claim and Fraud Intelligence yang dimanfaatkan untuk mendukung validasi klaim medis, mendeteksi anomali, menentukan prioritas pemeriksaan, serta memperkuat tata kelola pelayanan secara objektif dan akuntabel.

Namun, Awaluddin mengingatkan bahwa peningkatan pemanfaatan AI harus diikuti dengan tata kelola yang kuat. Perlindungan data pribadi, keamanan siber, transparansi penggunaan teknologi, mitigasi bias algoritma, dan pengawasan manusia menjadi elemen penting dalam menjaga kepercayaan publik.

“Kecepatan inovasi tidak boleh melampaui kesiapan tata kelolanya. AI harus dikembangkan secara aman, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan karena teknologi ini digunakan untuk mendukung pelayanan yang menyangkut keselamatan dan perlindungan masyarakat,” tegasnya.

Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan

Lebih lanjut, Awaluddin menyampaikan bahwa persoalan keselamatan transportasi tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi maupun satu moda transportasi.

Menurut dia, diperlukan integrasi dan kolaborasi antara pemerintah, regulator, operator transportasi, industri asuransi sosial, fasilitas kesehatan, akademisi, dan pengembang teknologi.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar data dari berbagai sektor dapat diolah menjadi pemahaman bersama mengenai pola mobilitas dan risiko keselamatan. Dengan demikian, kebijakan serta program pencegahan kecelakaan dapat disusun secara lebih akurat dan berbasis bukti.

“Masa depan perlindungan publik berbasis AI hanya dapat dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan para inovator,” ujar Awaluddin.

Melalui partisipasinya dalam AI Indonesia Initiative Forum 2026, Jasa Raharja menegaskan komitmen untuk terus mendorong pemanfaatan teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadirkan pelayanan yang semakin cepat, akurat, dan mudah diakses, sekaligus mendukung terciptanya perjalanan yang lebih aman bagi seluruh pengguna jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.