PANGKALPINANG – Laju inflasi Kota Pangkalpinang secara tahunan atau year on year (YoY) pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 4,12 persen. Angka tersebut berada di atas kisaran sasaran inflasi nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Triwulan II Tahun 2026 yang dipimpin langsung Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Dalam rapat tersebut, Kota Pangkalpinang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Pangkalpinang, Juhaini, bersama Kabag Perekonomian Rico Ari Putra.
Juhaini mengatakan tekanan inflasi di Pangkalpinang terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 2,06 persen.
Sejumlah komoditas yang turut memberikan tekanan antara lain kenaikan harga daging ayam ras, jasa angkutan udara, serta harga bensin.
“Seperti kita ketahui bahwa beberapa bulan di bulan Agustus kemarin ada perayaan hari-hari besar Maulid Nabi, kemudian Sembahyang Rebut. Ini yang mempengaruhi pasar di Pangkalpinang ini menjadi rujukan bagi daerah sekitar,” ujar Juhaini saat diwawancarai awak media, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, meskipun sejumlah perayaan tersebut berlangsung di kabupaten-kabupaten sekitar Pangkalpinang, kebutuhan masyarakat banyak dipenuhi dari pasar yang ada di ibu kota provinsi.
Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap sejumlah komoditas pangan meningkat dan berdampak pada ketersediaan stok serta harga.
Kelompok pangan tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,84 persen. Sementara angkutan udara memberikan andil 0,31 persen dan bensin sebesar 0,23 persen.
Kabag Perekonomian Kota Pangkalpinang, Rico Ari Putra, menambahkan bahwa tekanan harga juga dipengaruhi peningkatan permintaan pada periode tertentu.
Pada Juli, misalnya, terjadi masa awal masuk sekolah yang bersamaan dengan mulai beroperasinya Satuan Pelaksana Pengawasan Pangan dan Gizi (SPPG).
Keberadaan puluhan SPPG yang mulai aktif pada periode tersebut turut meningkatkan kebutuhan terhadap sejumlah bahan pangan pokok, termasuk ayam dan komoditas lainnya.
Kemudian memasuki Agustus, tradisi Sembahyang Rebut turut mendorong peningkatan permintaan terhadap berbagai bahan yang digunakan untuk sajian maupun keperluan upacara, seperti ayam dan sayuran.
Selain itu, pelaksanaan Maulid Nabi di wilayah Kabupaten Bangka juga ikut meningkatkan aktivitas belanja masyarakat di pasar-pasar Pangkalpinang.
“Warga banyak berbelanja kebutuhan pangan ke pasar-pasar di Pangkalpinang, baik Pasar Ratu Tunggal maupun Pasar Pagi. Akibatnya, permintaan yang biasanya hanya cukup untuk warga kota tiba-tiba melonjak karena tambahan permintaan dari luar kota,” jelas Rico.
Lonjakan permintaan tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap ketersediaan komoditas dan harga di pasaran.
Dengan kondisi tersebut, inflasi Pangkalpinang pada periode tersebut dipengaruhi kombinasi tekanan harga pada sektor energi dan transportasi serta peningkatan permintaan musiman.
Posisi Pangkalpinang sebagai salah satu pusat pemasok kebutuhan pangan bagi wilayah di sekitarnya turut membuat perubahan permintaan dari daerah lain berdampak terhadap kondisi harga di dalam kota.
Ke depan, pemantauan pasokan dan distribusi dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kestabilan harga, terutama menjelang periode perayaan keagamaan dan berbagai tradisi lokal yang berpotensi meningkatkan permintaan masyarakat.








