Belitung Timur, Demokrasibabel – Kenaikan harga timah hingga sekitar Rp200 ribu per kilogram mulai dirasakan manfaatnya oleh penambang rakyat di Kabupaten Belitung Timur. Kondisi tersebut dinilai membantu masyarakat kembali menata ekonomi keluarga setelah sebelumnya tertekan harga timah yang berada di kisaran Rp100 ribuan per kilogram.
Salah satu penambang yang merasakan dampaknya adalah Didi (48), warga Desa Sukamandi, Kecamatan Damar. Selama lebih dari 20 tahun, Didi menggantungkan penghasilan dari menambang timah.
“Alhamdulillah, semenjak harga ini Rp200 ribu, ekonomi kita terbantu. Dapur mulai stabil, perekonomian lebih stabil, anak-anak juga nyaman untuk bersekolah,” kata Didi.
Menurut Didi, hasil tambang yang diperoleh tidak selalu banyak. Namun, harga timah yang lebih tinggi membuat hasil satu hingga dua kilogram tetap cukup berarti bagi kebutuhan keluarganya.
“Walaupun satu kilo, dua kilo kita dapat, kita bisa membiayai keluarga dengan lebih baik. Tidak terlalu kekurangan dalam menopang ekonomi keluarga,” ujarnya.
Dia membandingkan kondisi saat ini dengan ketika harga timah masih berada di kisaran Rp100 ribuan. Saat itu, tingginya biaya operasional membuat pendapatan dari menambang kerap tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
“Kalau harga yang kemarin seratus lebih, kita kekurangan. Sementara biaya operasinya besar. Ekonomi keluarga juga harus ditopang dengan baik, anak-anak harus sekolah,” tuturnya.
Didi mengaku sempat menjual peralatan hingga menggadaikan barang berharga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika harga timah rendah.
Menurut dia, persoalan harga timah tidak hanya berpengaruh terhadap kemampuan membeli kebutuhan rumah tangga. Tekanan ekonomi juga dapat berdampak pada keharmonisan keluarga.
“Semenjak harga timah mahal, Alhamdulillah kita berkeluarga juga tenang. Bisa menjalani kehidupan dengan baik. Tapi kalau timah murah, yang tidak bertengkar pun bisa bertengkar dengan keluarga karena masalah ekonomi,” ungkapnya.
Didi pun mengaku cukup puas dengan harga timah yang kini berada di sekitar Rp200 ribu per kilogram. Dia berharap harga tersebut dapat bertahan dan memberikan kepastian bagi masyarakat penambang.
“Puas, sangat puas. PT Timah dapat mengerti masyarakat dan memikirkan ekonomi kita. Karena memang timah sekarang sangat sulit didapatkan,” katanya.
Dia berharap PT Timah dapat terus bersinergi dengan masyarakat penambang, mengingat sebagian masyarakat Belitung Timur masih menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.
“Kami berterima kasih kepada PT Timah karena dapat membuat ekonomi Belitung Timur menjadi lebih baik. Masyarakat Belitung Timur sebagian besarnya penambang rakyat,” ujarnya.
Didi menilai keberadaan PT Timah sebagai perusahaan tambang milik negara memiliki arti penting bagi masyarakat. Dia berharap keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam dapat memberikan manfaat kembali kepada masyarakat dan negara.
“PT Timah harus siap berdiri untuk rakyat. Kalau investor asing, keuntungan tentu ada yang dibawa keluar. Tapi kalau PT Timah, saya yakin keuntungannya akan kembali kepada rakyat Indonesia,” ucapnya.
Dia juga meminta persoalan yang berkaitan dengan penambangan rakyat dibahas melalui komunikasi dan musyawarah. Menurutnya, pembahasan tidak hanya menyangkut harga timah, tetapi juga akses wilayah tambang, kepastian usaha dan jaminan sosial.
“Harapan saya PT Timah tetap bersinergi dengan masyarakat dengan baik, baik itu soal harga maupun urusan lainnya, jaminan sosial atau tentang penambang. Itu harus dipikirkan agar ke depan tetap berjalan bersama,” tutur Didi.
Didi juga berharap berbagai persoalan antara perusahaan dan masyarakat tidak diselesaikan dengan tindakan anarkis. Menurut dia, dialog merupakan jalan terbaik untuk mencari solusi.
“Apa yang kurang dari penambang, apa yang kurang dari PT Timah, harus dibicarakan. Baik masalah lahan tambang, perkembangan ekonomi, maupun jaminan sosial bagi penambang. Itu harus disinergikan,” katanya.
Terkait aksi penyampaian aspirasi yang sebelumnya dilakukan masyarakat, Didi mengaku menyayangkan situasi tersebut. Namun, dia memahami keresahan warga yang merasa belum menemukan jalan keluar.
“Saya sedih sebenarnya dengan aksi kemarin. Sedih karena PT Timah itu punya kita sendiri. Tapi masyarakat juga merasa tidak punya jalan lain. Kalau jalan sudah buntu, akhirnya seperti balon yang pecah,” ujarnya.
Dia berharap perusahaan dan masyarakat dapat duduk bersama untuk mencari jalan keluar sehingga kepentingan kedua pihak tetap terakomodasi.
“Kalau mereka ketemu dan dicari baik-baik, saya yakin akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi PT Timah maupun masyarakat. Jadi tidak ada yang dirugikan,” katanya.
Bagi Didi, keberpihakan terhadap masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah. Ketika masyarakat memiliki penghasilan yang cukup, aktivitas ekonomi di daerah ikut bergerak dan memberikan manfaat lebih luas.
“Utamakan masyarakat dan bela masyarakat, terutama ekonominya. Itu akan menguntungkan negara. Semuanya bertumpu pada masyarakat,” ucapnya.
Dia berharap pengelolaan sumber daya alam, khususnya timah, dapat memberikan manfaat yang seimbang bagi negara, perusahaan dan masyarakat.
“Kalau memang masyarakat membutuhkan dan menggantungkan hidup dari timah, tanggapilah dengan baik. Disinergikan dengan ekonomi yang baik agar mereka tetap hidup. Harapannya negara diuntungkan dan masyarakat tidak dirugikan,” tuturnya.
Bagi Didi, kenaikan harga timah saat ini menjadi momentum bagi penambang rakyat untuk kembali memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Dia berharap harga yang lebih baik tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat memberikan kepastian bagi masyarakat.
“PT Timah harus selamanya bersama rakyat. Kita sama-sama hidup. Negara diuntungkan, masyarakat juga tidak dirugikan,” pungkasnya.







