Kepemimpinan Transformasional: Cara Mendorong Partisipasi Aktif Anggota BEM

by -269 Views
Foto : Fitri Lela (Mahasiswi Program Studi Manajemen, Universitas Bangka Belitung)

Oleh : Fitri Lela (Mahasiswi Program Studi Manajemen, Universitas Bangka Belitung)

Organisasi mahasiswa, terutama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), sebenarnya adalah tempat utama bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri, melatih kemampuan memimpin, menyampaikan pendapat, dan belajar bekerja sama dalam tim. Di sinilah seharusnya calon-calon pemimpin masa depan dibentuk, tidak hanya untuk pandai secara akademis, tetapi juga untuk berkembang secara sosial dan dalam organisasi. Namun, jika kita melihat kenyataan di lapangan, ada satu masalah yang sering terjadi di banyak perguruan tinggi: rendahnya partisipasi anggota.

Masalah ini tidak bisa dianggap remeh, karena jika dibiarkan, organisasi hanya akan beroperasi di atas kertas dan tidak akan bisa mencapai tujuannya. Menurut saya, masalah utama di sini bukan karena anggota yang tidak mampu, tetapi karena gaya kepemimpinan yang belum sesuai. Saya percaya bahwa kepemimpinan transformasional adalah cara yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah ini.

Fenomena yang sering kita lihat adalah anggota organisasi yang sangat bersemangat di awal masa tugas, tetapi seiring waktu, semangat mereka perlahan-lahan menurun dengan drastis. Banyak anggota yang hanya muncul saat pendaftaran atau pelantikan, tetapi jarang terlihat saat rapat kerja. Mereka juga sedikit memberikan kontribusi saat program dilaksanakan dan tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Sebenarnya, organisasi tidak akan berjalan dengan baik jika hanya diurus oleh beberapa orang saja. Menurut pengamatan dan analisis saya, ini terjadi karena beberapa alasan: pertama, motivasi anggota yang rendah, kedua, komunikasi dalam organisasi yang kaku dan tidak efektif, ketiga, pembagian tugas yang tidak jelas, dan keempat, rasa memiliki terhadap organisasi yang belum berkembang. Semua ini pada akhirnya berhubungan dengan satu hal: kepemimpinan yang belum bisa memaksimalkan potensi setiap anggotanya sepenuhnya.

Di sinilah pentingnya peran kepemimpinan transformasional diterapkan. Gaya kepemimpinan ini, yang diusulkan oleh Bass pada tahun 1985, melihat pemimpin bukan hanya sebagai orang yang membagi tugas atau mengawasi pekerjaan, tetapi juga sebagai sosok yang dapat mengubah perilaku, memberikan inspirasi, dan membantu pengembangan orang-orang di sekitarnya. Saya melihat ada empat pilar utama yang membuat gaya ini sangat pas untuk diterapkan di lingkungan organisasi mahasiswa.

Pertama, seorang pemimpin perlu menjadi contoh atau panutan. Sikap, tindakan, dan integritas seorang pemimpin akan mencerminkan apa yang ada pada anggotanya. Jika seorang pemimpin disiplin, jujur, dan bertanggung jawab, maka anggota lainnya akan secara otomatis mengikuti contoh yang ditunjukkannya.

Kedua, seorang pemimpin harus bisa memberi inspirasi dan semangat. Pemimpin tidak hanya harus memerintah, tetapi juga harus bisa menjelaskan dengan jelas visi dan tujuan organisasi. Dengan begitu, setiap anggota bisa mengerti mengapa mereka melakukan sesuatu dan kemana arah tujuan bersama.

Ketiga, pemimpin perlu mendorong cara berpikir anggota agar menjadi lebih kreatif dan inovatif. Pemimpin transformasional tidak terikat pada metode lama, tetapi mengajak anggotanya untuk berpikir kritis dan berani mengemukakan ide-ide baru.

Yang terakhir dan menurut saya yang paling penting, pemimpin harus memberikan perhatian secara pribadi. Artinya, seorang pemimpin memperhatikan kebutuhan, kemampuan, dan masalah yang dihadapi oleh setiap anggotanya. Pemimpin tidak memperlakukan semua orang dengan cara yang sama tanpa melihat karakter masing-masing individu.

Menggunakan prinsip-prinsip ini dalam BEM akan memberikan dampak yang sangat jelas. Pemimpin atau ketua yang menggunakan gaya ini tidak akan bekerja sendirian atau bersikap sewenang-wenang. Ia akan menciptakan komunikasi yang terbuka antara dua pihak, mengundang diskusi, dan berani melibatkan anggotanya dalam pengambilan keputusan penting.

Anggota sekarang tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, seorang pemimpin yang baik juga tidak akan melupakan untuk menghargai, sekecil apa pun sumbangan yang diberikan oleh anggotanya. Hal-hal kecil seperti mengakui dan mengucapkan terima kasih ternyata bisa sangat mempengaruhi semangat seseorang.

Saat anggota merasa suaranya didengar, dihargai, dipahami, dan tahu tujuan organisasi, maka rasa tanggung jawab dan rasa memiliki akan muncul secara alami. Mereka akan ikut serta bukan karena takut atau terpaksa, tetapi karena mereka termotivasi dan merasa bahwa organisasi ini juga milik mereka. Budaya organisasi menjadi lebih hidup, terbuka dalam komunikasi, dan lebih bekerja sama.

Saya percaya bahwa rendahnya partisipasi anggota BEM sebenarnya mencerminkan bahwa kepemimpinan yang ada belum berjalan dengan baik. Kepemimpinan transformasional adalah pilihan yang paling tepat karena gaya ini tidak hanya fokus pada hasil pekerjaan, tetapi juga lebih pada membangun dan mengembangkan orang-orang di dalamnya.

Sebagai kesimpulan, saya mendorong para pemimpin organisasi mahasiswa untuk mulai mengadopsi dan menerapkan gaya kepemimpinan ini dengan konsisten. BEM, sebagai organisasi mahasiswa tertinggi, harus memperbaiki cara komunikasi di dalamnya, memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anggotanya untuk menyampaikan pendapat, dan secara teratur melakukan evaluasi agar semangat organisasi tetap terjaga.

Jangan biarkan organisasi mahasiswa hanya menjadi tempat bagi beberapa orang saja. Dengan kepemimpinan yang bisa menginspirasi dan peduli pada anggotanya, kita bisa menjadikan BEM sebagai tempat di mana setiap anggota merasa berani untuk ikut serta, tumbuh, dan mencapai prestasi bersama. Itulah inti dari organisasi mahasiswa: belajar dan berkembang bersama, bukan hanya bekerja sendirian.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.