Penolakan PLTN di Bangka Belitung Meluas, Warga Khawatir Risiko Lingkungan dan Keselamatan

by
Foto : ilustrasi (Istimewah)

Bangka Belitung, Demokrasibabel – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menuai penolakan luas dari masyarakat. Warga menilai proyek tersebut berpotensi menimbulkan risiko besar, terutama terhadap lingkungan dan keselamatan hidup di masa depan.

Rizky, warga Koba, Kabupaten Bangka Tengah, menegaskan masyarakat tidak ingin wilayahnya dijadikan lokasi proyek berisiko tinggi. Ia menyoroti potensi kebocoran nuklir yang bisa berdampak jangka panjang.

“Dampak kebocoran nuklir itu sangat fatal. Kalau pemerintah ingin listrik di Babel aman, masih banyak solusi lain seperti tenaga surya dan tenaga air. Di Bangka Tengah saja ada potensi air terjun,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Menurut Rizky, rencana pembangunan PLTN menunjukkan belum optimalnya pemanfaatan energi lokal yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Penolakan serupa disampaikan Susanto, warga Desa Air Saga, Kabupaten Belitung. Ia menilai kemajuan teknologi tidak cukup menjadi alasan untuk membangun PLTN di Indonesia.

“Nuklir tetap berisiko. Kalau memang aman, kenapa banyak negara maju mulai meninggalkannya? Kita punya banyak sumber energi lain yang belum dimaksimalkan,” kata dia.

Susanto menambahkan, Indonesia memiliki potensi energi alternatif seperti tenaga surya, angin, dan arus laut yang dinilai lebih relevan untuk dikembangkan.

Kekhawatiran juga datang dari Menkiong, warga Desa Baturusa, Kabupaten Bangka. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak menambah beban masyarakat yang selama ini terdampak aktivitas pertambangan timah.

“Kami sudah lama hidup dengan dampak tambang. Lingkungan rusak, ekonomi tidak stabil. Jangan ditambah lagi dengan ancaman nuklir,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Bujang, warga Dusun Pulau Nangka. Ia menilai rencana pembangunan PLTN tidak berpihak pada keselamatan masyarakat.

“Energi itu penting, tapi keselamatan jauh lebih penting. Pemerintah harus mencari cara lain,” katanya.

Penolakan juga datang dari kalangan jurnalis. Wartawan senior Bangka Belitung, Suherman Saleh, mengaku telah menolak rencana tersebut sejak 2017.

“Indonesia rawan gempa dan tsunami. Membangun PLTN di wilayah seperti ini adalah keputusan berisiko tinggi,” ucapnya.

Ia menambahkan, dampak bencana nuklir dapat berlangsung sangat lama dan berpotensi mencemari lingkungan lintas generasi.

“Jika terjadi kecelakaan, dampaknya bisa ratusan tahun. Zat radioaktif bahkan bisa bertahan hingga ribuan tahun,” katanya.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan rencana pembangunan PLTN masih dalam tahap kajian dan belum ada penetapan lokasi resmi.

Namun, wacana menjadikan Bangka Belitung sebagai kandidat lokasi tetap memicu keresahan publik.

Sebelumnya, perusahaan asal Amerika Serikat, PT Thorcon International Pte Ltd, menawarkan pembangunan PLTN dengan teknologi Thorcon Molten Salt Reactor (MSR) yang diklaim lebih aman dan efisien. Meski demikian, klaim tersebut belum mampu meredam kekhawatiran masyarakat.

Bagi warga, rencana pembangunan PLTN bukan sekadar proyek energi, melainkan menyangkut keselamatan hidup dan masa depan daerah.

“Jangan jadikan Babel sebagai tempat percobaan. Kami tegas menolak PLTN,” ujar Rizky.(Wahyu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.