Bangka Tengah, Demokrasibabel – Angka stunting di Kabupaten Bangka Tengah justru mengalami kenaikan pada awal 2026. Berdasarkan data EPPGBM per Februari 2026, prevalensi stunting meningkat sebesar 3,73 persen.
Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam rapat koordinasi percepatan penurunan stunting yang digelar Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Setdakab Bangka Tengah, Rabu (22/4/2026).
Wakil Bupati Bangka Tengah, Efrianda, menegaskan kenaikan itu tidak bisa dianggap biasa. Ia menyebut kondisi ini sebagai alarm keras bagi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan pemangku kepentingan.
“Ini bukan sekadar angka. Ini peringatan bahwa upaya kita belum maksimal. Evaluasi total harus dilakukan, tidak bisa lagi parsial,” kata Efrianda.
Ia menilai pendekatan penanganan stunting selama ini belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan. Padahal, pemerintah pusat telah menetapkan target penurunan stunting hingga 17,5 persen pada 2026 melalui Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024.
“Kalau di awal tahun saja sudah naik, artinya ada yang harus dibenahi secara serius, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan,” ujarnya.
Efrianda juga menyoroti pentingnya akurasi data keluarga berisiko stunting sebagai dasar intervensi. Menurutnya, data yang tidak tepat dapat membuat program menjadi tidak efektif.
“Data harus valid. Kalau datanya tidak akurat, intervensi kita juga akan meleset,” ucapnya.
Ia menegaskan penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan. Diperlukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah desa dan keluarga.
“Ini kerja bersama. Tidak bisa satu OPD saja. Semua harus bergerak,” tambahnya.
Dalam rapat tersebut turut dibahas implementasi Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting 2025–2029 yang memiliki enam pilar utama, mulai dari komitmen kepemimpinan hingga sistem monitoring dan evaluasi.
Namun, Efrianda mengingatkan strategi tersebut tidak akan berdampak jika tidak dijalankan secara optimal di daerah. Ia pun berharap evaluasi yang dilakukan tidak hanya menjadi wacana, tetapi diikuti dengan perbaikan nyata di lapangan.
“Tantangan ke depan tidak ringan, apalagi tren kenaikan sudah terlihat sejak awal tahun,” pungkasnya.








