Bangka, Demokrasibabel.com — Di sudut desa Batu Rusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka tedapat kawasan tambak ikan yan cukup luas, aktivitas ikan patin dan ikan nila milik Mahendra mitra Binaan PT TIMAH (Persero) Tbk tak pernah benar-benar berhenti.
Setiap dua bulan sekali, kolam-kolamnya menghasilkan panen yang kini mencapai 3-5 ton. Sebuah capaian yang tidak datang secara instan, melainkan melalui perjalanan panjang, termasuk dukungan dari PT TIMAH.
Mahendra telah menekuni usaha budidaya ikan sejak 2016. Namun, jauh sebelumnya, ia sempat mencoba peruntungan di bidang yang sama sebelum tahun 2000. Kala itu, keterbatasan akses pemasaran membuat usahanya terhenti. Kini, kondisi tersebut berbalik.
“Sekarang justru pembeli yang datang ke kolam,” ujarnya belum lama ini.
Dengan delapan kolam yang dimiliki, tujuh kolam berkapasitas 3.000 ekor dan satu kolam besar berkapasitas hingga 10.000 ekor, Mahendra menerapkan pola budidaya estafet.
Sistem ini memungkinkan penebaran bibit dan panen dilakukan secara berkala setiap dua bulan, sehingga produksi tetap berkelanjutan tanpa jeda panjang.
Dalam satu siklus panen, hasil dari kolam-kolam tersebut didistribusikan ke enam pelanggan tetap. Untuk menjaga kelancaran distribusi, Mahendra biasanya menginformasikan jadwal panen kepada pelanggan sekitar satu minggu sebelumnya.
Dalam menjalankan usahanya, Mahendra tak lepas dari berbagai tantangan, terutama pada biaya pakan dan pengelolaan kualitas air. Ia mengakui, budidaya ikan nila membutuhkan perhatian ekstra karena kondisi air harus benar-benar terjaga, termasuk pH dan sirkulasinya. Karena itu, ia hanya mengelola satu kolam nila, sementara sisanya difokuskan pada patin yang lebih adaptif.
Untuk menekan biaya, Mahendra menerapkan strategi pakan kombinasi. Pada fase awal, benih ikan diberi pakan pelet hingga usia 3–4 bulan. Setelah itu, ia beralih ke pakan alternatif seperti ikan rucah.
“Biayanya jauh lebih hemat. Kalau pakai pelet bisa sampai dua kali lipat, tapi kalau pakan alternatif lebih murah. Hasilnya juga tidak kalah, bahkan bobot ikan bisa lebih berat,” jelasnya.
Namun, tantangan terbesar tetap pada infrastruktur kolam yang telah berusia lebih dari 15 tahun. Kondisi kolam yang mulai rusak dan sistem sirkulasi air yang kurang optimal sempat menghambat produktivitas.
Perubahan signifikan terjadi setelah Mahendra mendapatkan dukungan dari program kemitraan PT TIMAH yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki tambak, termasuk kolam besar yang sebelumnya mengalami banyak kerusakan.
Perbaikan ini berdampak langsung pada peningkatan kapasitas produksi. Jika sebelumnya Mahendra hanya mampu menebar 2.000 hingga 3.000 ekor per kolam, kini kapasitasnya meningkat hingga 10.000 ekor.
“Setelah diperbaiki, pengaturan air lebih mudah dan hasilnya juga meningkat,” katanya.
Tak hanya meningkatkan produksi, usaha Mahendra juga mulai memberikan dampak sosial dengan membuka lapangan pekerjaan bagi satu hingga dua orang di sekitar tambak.
Meski usahanya terus berkembang, Mahendra masih memiliki harapan untuk meningkatkan efisiensi, khususnya dalam hal pakan. Ia berharap dapat memperoleh bantuan mesin cetak pelet agar dapat memproduksi pakan secara mandiri dan menekan biaya operasional.
“Kalau bisa bikin pakan sendiri, tentu lebih hemat dan usaha bisa berkembang lebih cepat,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi atas dukungan yang telah diberikan PT TIMAH, seraya berharap program serupa dapat terus berlanjut untuk membantu pelaku usaha kecil lainnya.
“Terima kasih PT TIMAH yang telah mendukung pelaku usaha seperti kami, tentunya dengan adanya dukungan modal bisa membantu kami dalam mengembangkan usaha. Semoga ini bisa terus berlanjut,” katanya. (*)
sumber : www.timah.com








