Oleh : Gita Fitria Saputri (Mahasiswi Jurusan Manajemen, Universitas Bangka Belitung)
Generasi muda saat ini hidup di era yang serba cepat, digital, dan penuh peluang. Akses informasi terbuka luas, ruang berekspresi semakin bebas, serta kesempatan untuk berkembang tersedia di berbagai bidang. Namun, adanya kemudahan tersebut, muncul kondisi yang sering dikaitkan pada anak muda, yaitu budaya “rebahan”. Istilah ini tidak lagi sekadar menggambarkan posisi santai, melainkan menjadi kebiasaan gaya hidup yang cenderung pasif, menunda, dan terlalu nyaman di zona aman. Kondisi ini harus menjadi renungan bersama, karena di saat yang sama generasi muda dituntut untuk menjadi penggerak perubahan.
Secara harfiah, rebahan berarti berbaring atau bersantai. Akan tetapi, dalam konteks sosial, rebahan sering kali dimaknai sebagai sikap malas dan kurang produktif. Perkembangan teknologi dan media sosial membuat seseorang mudah terhanyut dalam hiburan tanpa mengenal waktu. Waktu habis untuk menggulir layar, menonton, atau sekadar mengomentari isu yang sedang ramai. Pola pikir pasif akan terbentuk, jika kebiasaan ini terus berlangsung. Generasi muda menjadi lebih nyaman menjadi penonton daripada pelaku, lebih sering berbicara daripada bertindak. Padahal, perubahan tidak pernah lahir dari sikap diam.
Di era digital, tantangan yang dihadapi generasi muda juga semakin rumit. Media sosial bukan hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga ruang perbandingan sosial. Banyak anak muda merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Budaya instan di kalangan generasi muda turut memperparah keadaan, karena segala sesuatu ingin diraih dengan cepat tanpa proses panjang. Ketakutan akan kegagalan dan penilaian orang lain akhirnya membuat sebagian memilih untuk tidak mencoba sama sekali. Potensi besar yang sebenarnya dimiliki pun terpendam oleh rasa ragu.
Di sinilah pentingnya membangun mental kepemimpinan. Kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, melainkan tentang sikap dan tanggung jawab. Mental kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, seperti mengatur waktu, menjaga konsistensi, serta berani bersikap inisiatif. Seorang pemimpin tidak menunggu diperintah, tetapi peka terhadap masalah dan terdorong untuk mencari solusi. Karakter seperti disiplin, keberanian, integritas, dan komitmen harus dilatih supaya menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan dari budaya rebahan menuju budaya bergerak tentu tidak terjadi secara instan. Namun, langkah kecil dapat menjadi awal yang berarti. Generasi muda bisa mulai dari hal sederhana seperti ikut organisasi atau komunitas, berani menyampaikan pendapat dengan baik, serta membiasakan diri tepat waktu dan menepati janji. Keluar dari zona nyaman memang tidak mudah, tetapi justru di sanalah proses pembentukan karakter berlangsung. Dari pengalaman memimpin proyek kecil atau mengambil tanggung jawab sederhana, mental kepemimpinan akan tumbuh secara alami.
Pada akhirnya, generasi muda bukan cuma calon pemimpin di masa depan, tapi juga punya peran penting dalam menentukan arah perubahan sejak hari ini. Rebahan mungkin terasa nyaman, tetapi tidak akan membawa kemajuan jika dijadikan kebiasaan utama. Ketika generasi muda berani bangkit, mengambil tanggung jawab, dan bergerak nyata, saat itulah perubahan dimulai. “Dari rebahan ke perubahan” bukan hanya kata-kata, tetapi sikap nyata yang menentukan masa depan kita.







