Oleh : Erzama Likaya (Mahasiswi Jurusan Manajemen, Universitas Bangka Belitung)
Kondisi kepemimpinan yang kita lihat saat ini membuat kita bertanya kenapa banyak sekali pemimpin organisasi yang jiwa kepemimpinannya bisa dikatakan masih kurang untuk menggambarkan seorang pemimpin yang berkualitas, pemimpin yang kurang berani mengambil keputusan, mudah dipengaruhi, minim empati, ataupun pemimpin yang cenderung otoriter. Jawaban dari pertanyaan itu sering dicari di sistem pendidikan, budaya kerja, atau kurangnya pelatihan. Namun menurut saya, persoalannya bisa lebih jauh sederhana: bagaimana cara mereka dibesarkan di rumah?
Generasi muda Indonesia pada saat ini menghadapi tantangan tersendiri. Survei yang diliris oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka masih didominasi oleh lulusan usia muda. Berbagai survei karakter dan literasi menunjukkan bahwa generasi muda sekarang masih perlu penguatan dalam soft skill seperti kemampuan dalam berkomunikasi, jiwa kepemimpinan, dan daya tahan menghadapi banyak tekanan.
Kepemimpinan bukan hanya sekedar memberikan perintah, atau sekedar memiliki jabatan. Kepemimpinan merupakan keberanian dalam mengambil keputusan, tanggung jawab, kemampuan dalam mengelola emosi, dan kesediaan mendengarkan orang lain. Nilai-nilai ini tidak datang dengan instan ketika seseorang diangkat menjadi pemimpin, nilai tersebut tumbuh dari pengalaman yang sangat panjang sejak masih kanak-kanak.
Menurut pendapat saya, salah satu faktor akar persoalan yang jarang dibahas pada saat ini adalah pola asuh keluarga di rumah, karena keluarga memiliki peran yang fundamental. Rumah adalah tempat pertama untuk seseorang belajar tentang kekuasaan, keadilan, komunkasi, kejujuran, disiplin, tanggung jawab dan cara untuk menyelesaikan konflik. Jika sejak kecil seorang anak tidak dibiasakan untuk mengambil keputusan sendiri, tidak diajak berdiskusi, atau justru tumbuh dalan pola komunikasi yang otoriter, maka hal tersebut dapat membentuk karakter yang kurang percaya diri dan cenderung memiliki gaya kepemimpinan yang keras atau otoriter ketika dewasa.
Di era modern yang serba digital, tantangan semakin kompleks. Banyak orang tua menghadapi keterbatasan waktu karena tekanan ekonomi dan pekerjaan. Interaksi keluarga sering tergantikan oleh gawai. Anak menjadi lebih banyak belajar dari media sosial dibandingkan dari percakapan langsung dengan orang tua. Dalam kondisi seperti ini, pembentukan karakter berisiko menjadi kurang optimal. Padahal nilai-nilai seperti empati, ketahanan mental, integritas, dan kemampuan mengambil keputusan tidak bisa dibentuk secara instan melalui pelatihan singkat di digital saja, tetapi melalui peran orang tua di rumah.
Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, organisasi memang dapat mengembangkan kompetensi melalui pelatihan dan pembinaan. Namun pengembangan SDM tidak dimulai dari nol. Konsep human capital menekankan bahwa kualitas individu merupakan hasil investasi jangka panjang, termasuk investasi nilai dan karakter sejak usia dini. Jika fondasi ini lemah, maka organisasi akan menghadapi tantangan besar dalam membentuk pemimpin yang matang secara emosional dan etis.
Saya tidak berpendapat bahwa pola asuh adalah satu-satunya penyebab krisis kepemimpinan generasi muda. Faktor sistem pendidikan, budaya politik, dan lingkungan sosial juga memiliki peran besar. Namun mengabaikan peran keluarga berarti mengabaikan fondasi utama pembentukan karakter. Jika Indonesia ingin memanfaatkan bonus demografi menjadi bonus kepemimpinan, maka perhatian terhadap pola asuh harus menjadi bagian dari solusi.
Pada akhirnya, generasi muda bukan sekadar produk zaman, tetapi juga produk pola asuh. Jika kita menginginkan pemimpin masa depan yang berintegritas dan visioner, maka pertanyaan “apakah berawal dari rumah?” bukanlah pertanyaan yang berlebihan, melainkan refleksi yang perlu dijawab secara serius.









