Parit Malintang, Demokrasibabel – Dosen Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand) resmi meluncurkan Website Ensiklopedi Digital Pribahasa Minangkabau dalam kegiatan yang digelar di kantor Bapelitbangda Padang Pariaman, Senin (17/11).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu dihadiri majelis guru serta siswa tingkat SD dan SMP se-Padang Pariaman. Acara dibuka oleh Bupati Padang Pariaman yang diwakili staf khusus bupati, kemudian dilanjutkan dengan prosesi peluncuran website.
Ketua Tim Website Ensiklopedi Digital Pribahasa Minangkabau, Dr. Lindawati, M.Hum, mengatakan peluncuran tersebut merupakan wujud kepedulian akademisi terhadap pelestarian kebudayaan Minangkabau.
“Alhamdulillah, kegiatan ini dapat direalisasikan berkat dukungan Bapelitbangda Padang Pariaman serta kehadiran para guru dan siswa. Website ini berisi pepatah-petitih Minangkabau beserta maknanya dengan jumlah sekitar 300 entri. Saat ini baru rampung 20 persen, dan kami membuka ruang kontribusi bagi masyarakat untuk menambah konten kebudayaan,” ujarnya.
Turut hadir anggota tim peneliti Dr. Satya Gayatri, M.Hum, Bahren, S.S., M.A., serta Tim Ahli Website dari UPI YPTK Padang, Giwa. Sementara itu, tim ahli IT, M. Sayuti, S.Ds., M.Sn, berhalangan hadir karena agenda lain.
Dalam sesi pengenalan website, Bahren dan Satya Gayatri memaparkan fitur serta tujuan pengembangan platform digital tersebut. Mereka turut menerima berbagai pertanyaan dari peserta mengenai penerapan muatan lokal Keminangkabauan di sekolah.
Bahren menyampaikan bahwa kehadiran website ini diharapkan menjadi langkah awal dalam penguatan pembelajaran budaya daerah.
“Kami siap bekerja sama menyusun modul pembelajaran bersama guru-guru di Padang Pariaman agar tradisi lokal dapat masuk dalam kurikulum,” katanya.
Senada dengan itu, Satya Gayatri menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan tenaga pendidik untuk memperkuat implementasi muatan lokal.
“Hasil penelitian kami menunjukkan 90 persen guru menginginkan muatan lokal Keminangkabauan diterapkan di sekolah. Dengan regulasi yang kuat, seperti Perbup, hal ini dapat diwujudkan,” ujarnya.
Pertemuan berlangsung hangat dan produktif, membahas peluang sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan guru dalam pelestarian budaya Minangkabau. Setelah sesi diskusi dan makan siang, para peserta kembali ke sekolah masing-masing untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar. (ajr)







