Korupsi Izin Tambang di Babel: Rp 300 Triliun Hilang, Siapa yang Patut Disalahkan?

by
Foto : Pierre Alfarisi (Mahasiswa Program Studi S1 Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Bangka Belitung)

Oleh : Pierre Alfarisi (Mahasiswa Program Studi S1 Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Bangka Belitung)

Nama Bangka Belitung kini Kembali menjadi buah bibir publik. Sayangnya, bukan karena wisata alamnya yang memesona, melainkan karena kasus korupsi tambang timah yang menimbulkan kerugian negara hingga Rp 300 triliun. Nilai itu sungguh mencengangkan bukan hanya bagi ekonomi, tapi juga bagi hati rakyat yang melihat alam mereka hancur tanpa belas kasihan.

Langit yang dulu biru kini perlahan berubah keruh. Sungai-sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan warga kini dipenuhi lumpur timah, dan laut yang dulu menjadi kebanggaan para nelayan berubah menjadi kolam raksasa sisa tambang.

Di balik lanskap yang porak-poranda itu, tersimpan kisah tentang keserakahan, kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap alam. Babel yang semestinya kaya karena timahnya, justru miskin karena moral manusianya.

Skandal ini memperlihatkan bahwa bisnis tambang di Babel sudah jauh menyimpang dari tujuannya. Izin pertambangan diterbitkan tanpa kontrol yang ketat, banyak perusahaan nakal beroperasi dengan dukungan oknum berkuasa, dan praktik kolusi tumbuh subur di balik meja perizinan.

Yang paling menderita tentu masyarakat kecil. Para nelayan kehilangan lautnya, petani kehilangan lahan suburnya, dan banyak warga terpaksa bekerja di area tambang demi bertahan hidup. Sementara itu, segelintir orang di balik layar menikmati kekayaan yang bersumber dari penderitaan rakyat.

Lebih parah lagi, kerusakan yang ditinggalkan tak bisa ditebus dengan uang. Sungai menjadi keruh, tanah rusak, dan ekosistem laut terganggu. Babel yang dulu dijuluki “Bumi Serumpun Sebalai” kini menghadapi kenyataan pahit akibat kerakusan manusia.

Masyarakat kini bertanya-tanya, apakah hukum akan benar-benar berpihak pada kebenaran? Atau kasus ini hanya akan berakhir pada beberapa nama kecil, sementara aktor besar tetap bebas tanpa tersentuh hukum? Inilah saatnya pemerintah menjadikan tragedi Babel sebagai pelajaran besar.

Tata kelola tambang harus dibenahi, izin harus terbuka, dan pengawasan harus diperketat. Sumber daya alam seharusnya membawa kesejahteraan, bukan kehancuran. Kasus korupsi tambang di Babel adalah cermin moral bangsa. Ketika kekayaan alam dikeruk tanpa rasa tanggung jawab, maka yang hilang bukan hanya uang triliunan rupiah, tapi juga masa depan dan hati nurani kita sebagai manusia.

Sumber: https://m.antaranews.com/berita/5155761/prabowo-kerugian-negara-dari-tambang-ilegal-babel-capai-rp300-triliun

https://www.tambang.co.id/gara-gara-korupsi-timah-ekonomi-bangka-belitung-anjlok

https://nasional.kompas.com/read/2024/07/31/15364601/kasus-timah-eks-kadis-pertambangan-babel-didakwa-rugikan-negara-rp-300-t

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.