UMKM Ramai di Platform, Tapi Sepi Strategi: Salah Teknologi atau Salah Kelola?

by
Foto : Riska Audia (Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Bangka Belitung)

Oleh: Riska Audia (Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Bangka Belitung)

Masuknya UMKM ke dunia digital telah menjadi fenomena yang cukup masif dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika (2024) sebanyak 27 juta UMKM telah masuk ke dalam ekosistem digital.

Angka ini menunjukkan bahwa sekitar 42,2% dari total 64 juta UMKM di Indonesia telah beralih ke platform digital. Digital marketing adalah penggunaan teknologi digital untuk menghubungkan, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan pelanggan guna memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.

Namun ironisnya, tak semua UMKM mengalami peningkatan signifikan dalam penjualan atau pertumbuhan bisnis. Banyak yang hanya sekadar “numpang lewat” di platform, tanpa strategi yang matang. Sehingga, muncul pertanyaan: apakah masalahnya terletak pada teknologinya, atau justru pada cara mengelola bisnisnya?.

Penggunaan platform digital seperti e-commerce, media sosial dan lain-lainnya memberikan peluang untuk memperluas jangkaun pasar mereka terutama bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengan (UMKM) yang menjadi salah satu roda penggerak utama ekonomi indonesia.

Di era teknologi yang semakin canggih platform e-commerce dan media sosial kini punya fitur yang sangat mendukung pelaku usaha mulai dari promosi otomatis, laporan penjualan, hingga pelatihan daring. Namun kenyataannya tak semua UMKM yang belum paham cara memaksimalkan fitur-fitur yang tersedia. Akun sudah dibuat, produk sudah diunggah, tapi strategi pemasaran tidak dirancang. Akibatnya, kehadiran digital menjadi formalitas belaka, tapi tidak berdampak besar.

Bukan sekedar soal teknologi, banyak UMKM juga belum memiliki kemampuan manajerial yang kuat bahkan adanya keterbatasan literasi digital. Misalnya, belum memiliki perencanaan bisnis jangka panjang, tidak melakukan pencatatan keuangan yang teratur, atau belum memahami siapa target pelanggan mereka tuju.

Sebagian besar UMKM di Indonesia masih menjalankan usaha dengan pendekatan coba-coba, bukan berbasis strategi yang dirancang sejak awal. Meski pada era digitalisasi, banyak pelaku UMKM masih terbatas pengetahuannya dalam hal pengelolaan digital.

Mereka tahu cara memposting produk, membuat konten pemasaran produk, tapi belum tahu bagaimana membangun merek, mengelola feedback pelanggan, atau memanfaatkan data dari platform untuk pengambilan Keputusan.

Agar digitalisasi UMKM benar-benar menghasilkan dampak, dibutuhkan lebih dari sekadar pelatihan teknis singkat. Harus ada pendampingan yang berkelanjutan dan menyentuh aspek strategi bisnis.

UMKM yang mendapat pendampingan manajemen terbukti lebih mampu bertahan dan berkembang di era digital dibandingkan yang hanya mendapat pelatihan teknis saja.

UMKM memang semakin ramai di dunia digital. Tapi keramaian ini tidak menjamin kesuksesan dalam sebuah usaha kalau tidak dibarengi dengan strategi dan manajemen yang kompeten. Bukan teknologinya yang salah, tapi bagaimana cara kita mengelolanya dengan baik.

Digitalisasi hanyalah alat yang menjadi penentuan hasil akhirnya tetap manusia dan arah yang mereka ambil dalam menjalankan bisnis tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.