Oleh : Jenyarti (Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Bangka Belitung)
Generasi Z adalah kelompok usia yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Mereka lahir dan tumbuh di era digital yang dikelilingi oleh teknologi canggih dan globalisasi, kerap kali diasosiasikan dengan kecepatan, keterbukaan, dan akses tak terbatas.
Gen Z adalah generasi pertama yang mengenal transaksi keuangan lewat dompet digital sejak remaja, memesan makanan melalui aplikasi dan berbelanja hanya lewat layar. Namun di balik semua kemudahan itu, tersembunyi sebuah ironi besar: gaya hidup modern yang tak selalu sejalan dengan kemampuan keuangan pribadi.
Di tengah derasnya arus konsumsi dan pengaruh media sosial, Gen Z dihadapkan pada dilema: bagaimana menyeimbangkan antara memenuhi gaya hidup kekinian dan menjaga kesehatan finansial jangka panjang?
Saat ini, tren gaya hidup tersebar cepat melalui media sosial, membentuk persepsi dan perilaku konsumsi Generasi Z. Setiap hari, Gen Z disuguhi konten tentang healing, cafe
hopping, belanja diskon daring, hingga gadget terbaru. Semua itu tampak seperti standar hidup ideal. Padahal, tidak sedikit dari mereka yang mengorbankan kebutuhan dasar atau bahkan berhutang demi memenuhi “gaya hidup” tersebut.
Konsep “self-reward” atau “aku pantas bahagia” seringkali menjadi pembenaran untuk pengeluaran impulsif. Banyak Gen Z yang merasa bahwa mereka layak mendapatkan hadiah setelah melewati hari yang melelahkan atau mencapai target tertentu. Meskipun keinginan untuk merasa bahagia dan dihargai adalah hal yang wajar, tanpa pemahaman yang baik tentang prioritas dan perencanaan keuangan, prilaku ini dapat memperbesar risiko krisis keuangan pribadi.
Tidak semua Gen Z memiliki penghasilan tetap. Banyak yang masih kuliah, bekerja paruh waktu, atau menjadi pekerja lepas dengan penghasilan tidak menentu. Namun, ekspektasi gaya hidup yang dibentu oleh lingkungan digital seringkali jauh di atas kemampuan nyata mereka. Akibatnya, banyak yang menggunakan layanan “paylater” atau mencicil barangbarang non-esensial hanya demi tampil selaras dengan tren. Alih-alih fokus pada menabung atau aset masa depan, banyak dari mereka yang justru menunda hal-hal penting seperti dana darurat, asuransi, atau investasi dasar.
Masalah utamanya bukan terletak pada teknologi atau tren. Yang paling krusial adalah minimnya literasi keuangan dan lemahnya kontrol diri. Banyak Gen Z belum terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran, tidak tahu perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta belum memahami pentingnya pengelolaan risiko keuangan.
Padahal, di era globalisasi yang kompetitif ini, penguasaan terhadap keuangan pribadi menjadi bekal penting untuk bertahan dan berkembang. Globalisasi juga membawa ketidakpastian: inflasi, resesi, naik turunnya nilai tukar, semua ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Tanpa kesiapan finansial, Gen Z akan menjadi generasi yang secara mental tangguh, tetapi rentan secara ekonomi.
Gen Z perlu memulai membiasakan diri dengan kebiasaan keuangan yang sehat, seperti membuat anggaran bulanan sederhana, menyisihkan minimal 10-20% penghasilan untuk tabungan, menghindari utang konsumtif dan belajar dasar-dasar investasi, memanfaatkan teknologi keuangan dengan bijak, bukan untuk konsumsi emata. Selain itu, pendidikan tinggi dan institusi formal harus mulai memasukkan literasi keuangan sebagai bagian dari kurikulum praktis, bukan sekeddar teori. Karena realitas finansial adalah bagian tak terpisahkan dari hidup sehari-hari.
Gen Z adalah generasi yang paling cepat belajar dan paling terbuka terhadap perubahan. Potensi mereka luar biasa, tetapi potensi itu hanya akan optimal jika diiringi dengan kesadaran dan kecerdasan dalam mengelola uang. Mengikuti gaya hidup global bukanlaah masalah, selama mampu memahami batas dan kemampuan.
Kini saatnya Gen Z membuktikan bahwa mereka bukan hanya generasi digital, tetapi jugaa generasi finansial yang sadar diri, terarah, dan mandiri.







