Perempuan Minang dan Celana : Tradisi, Modernitas dan Identitas

by
Foto : Vika Yuliandari

Oleh: Vika Yuliandari

Demokrasibabel.com – Di tengah gemerlapnya modernitas, perempuan Minangkabau masih memegang teguh tradisi dan adat istiadatnya. Salah satu ciri khas perempuan Minang adalah pakaian adat mereka, yaitu baju kurung dan saluang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren baru di kalangan perempuan Minang, yaitu penggunaan celana.

Secara tradisional, perempuan Minangkabau tidak memakai celana. Pakaian adat mereka adalah baju kurung, yang terdiri dari baju atasan dan bawahan yang panjang dan longgar. Baju kurung ini melambangkan kesopanan dan kesederhanaan, sesuai dengan nilai-nilai budaya Minangkabau.

Namun, seiring waktu, pemakaian celana mulai diterima di kalangan perempuan Minangkabau. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

  • Kebutuhan praktis: Celana dianggap lebih praktis untuk dipakai dalam kegiatan sehari-hari, terutama bagi perempuan yang bekerja atau beraktivitas di luar rumah.
  • Pengaruh modernisasi: Globalisasi dan pertukaran budaya membawa tren baru dalam fashion, termasuk pemakaian celana untuk perempuan.
  • Komfort: Celana dianggap lebih nyaman dipakai dibandingkan dengan baju kurung, terutama bagi perempuan yang aktif bergerak.

Meskipun demikian, pemakaian celana bagi perempuan Minangkabau masih memiliki beberapa batasan. Di beberapa daerah, perempuan masih dilarang memakai celana ke tempat-tempat tertentu, seperti masjid atau acara adat. Selain itu, jenis celana yang dipakai juga harus diperhatikan, agar tidak terlalu ketat atau terbuka.

Pemerintah daerah dan tokoh adat di Minangkabau berusaha untuk menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas dalam hal pemakaian celana. Di satu sisi, mereka mendorong perempuan untuk berpakaian sopan dan sesuai dengan adat istiadat. Di sisi lain, mereka juga memahami kebutuhan perempuan untuk memakai celana dalam kegiatan sehari-hari.

Berikut beberapa poin penting terkait pemakaian celana di perempuan Minangkabau:

  • Pemakaian celana bagi perempuan Minangkabau merupakan fenomena yang relatif baru.
  • Pemakaian celana dipengaruhi oleh faktor praktis, modernisasi, dan komfort.
  • Pemakaian celana masih memiliki beberapa batasan di beberapa daerah dan acara tertentu.
  • Upaya dilakukan untuk menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas dalam hal pemakaian celana.

Secara keseluruhan, pemakaian celana di perempuan Minangkabau menunjukkan dinamika budaya yang terus berkembang. Tradisi dan modernitas berpadu dalam menciptakan identitas perempuan Minangkabau yang unik dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Ada yang menganggap bahwa penggunaan celana oleh perempuan Minang bertentangan dengan adat dan budaya. Di sisi lain, ada pula yang menganggap bahwa hal ini merupakan bentuk adaptasi perempuan Minang terhadap zaman yang semakin modern.

Tradisi dan Makna Baju Kurung

Baju kurung bukan sekadar pakaian bagi perempuan Minang. Pakaian ini memiliki makna filosofis dan spiritual yang mendalam. Baju kurung melambangkan kesopanan, kesederhanaan, dan keanggunan perempuan Minang.

Bentuk baju kurung yang longgar dan tidak ketat melambangkan keterbukaan dan keramahan perempuan Minang. Hiasan-hiasan yang terdapat pada baju kurung, seperti sulaman dan payet, melambangkan keindahan dan kehalusan jiwa perempuan Minang.

Memakai baju kurung merupakan cara bagi perempuan Minang untuk menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari budaya Minangkabau. Baju kurung juga menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur dan adat istiadat.

Beberapa makna dari bagian-bagian kekhasan baju kuruang basiba antara lain adalah:

1.Bagian Siba: Bagian siba pada baju kuruang basiba memiliki makna filosofis yang tercermin dalam falsafah adat Minangkabau yang berpedoman pada ajaran agama Islam yang selalu dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

2.Makna Religius: Baju kuruang basiba juga memiliki makna religius yang melambangkan pemakainya wanita yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Baju ini berfungsi untuk mengurung atau menutup anggota badan seperti tangan, dada, paha, dan kaki, serta memiliki lengan yang besar untuk memudahkan pemakainya dalam melakukan aktivitas sehari-hari

3.Makna dalam Pernikahan: Unsur utama pakaian adat pengantin wanita Minangkabau adalah baju kuruang (atasan) dan kodek (bawahan). Baju kuruang dihiasi sulaman benang emas dan bermotif bunga-bunga yang disebut tabua (tabur). Kuruang bermakna bahwa calon ibu akan dikurung oleh undang-undang yang sesuai dengan agama Islam dan adat Minangkabau.

Alasan Perempuan Minang Memakai Celana

Ada beberapa alasan mengapa perempuan Minang mulai memakai celana. Salah satu alasannya adalah karena faktor praktis. Celana dianggap lebih nyaman dan mudah dipakai untuk beraktivitas sehari-hari, terutama bagi perempuan Minang yang bekerja atau memiliki kesibukan yang tinggi.

Alasan lainnya adalah karena pengaruh globalisasi. Perempuan Minang semakin terpapar dengan budaya Barat, di mana celana merupakan pakaian yang umum dipakai oleh perempuan. Hal ini membuat mereka merasa lebih bebas dan modis dengan memakai celana.

Pro dan Kontra Penggunaan Celana oleh Perempuan Minang

Penggunaan celana oleh perempuan Minang menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Pihak yang pro beranggapan bahwa hal ini merupakan bentuk adaptasi terhadap zaman yang semakin modern. Mereka berpendapat bahwa perempuan Minang tidak harus selalu terikat dengan tradisi dan adat istiadat.

Di sisi lain, pihak yang kontra beranggapan bahwa penggunaan celana oleh perempuan Minang bertentangan dengan adat dan budaya. Mereka khawatir bahwa hal ini akan merusak identitas dan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau.

Mencari Keseimbangan Tradisi dan Modernitas

Perdebatan tentang penggunaan celana oleh perempuan Minang menunjukkan bahwa budaya Minangkabau sedang mengalami pergeseran. Di satu sisi, perempuan Minang ingin mengikuti perkembangan zaman dan menjadi bagian dari dunia modern. Di sisi lain, mereka juga ingin tetap menjaga identitas dan tradisi mereka.

Tantangannya adalah bagaimana menemukan keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Perempuan Minang haruslah bijak dalam memilih pakaian yang mereka kenakan. Mereka harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kenyamanan, kepantasan, dan makna filosofis dari pakaian tersebut.

Penting juga untuk diingat bahwa pakaian hanyalah salah satu aspek dari budaya Minangkabau. Masih banyak nilai-nilai luhur budaya Minangkabau lainnya yang perlu dilestarikan, seperti nilai kesopanan, kesederhanaan, dan gotong royong.

Perempuan Minang haruslah terus belajar dan berbenah diri untuk menjadi perempuan yang modern namun tetap teguh memegang adat istiadat dan nilai-nilai luhur budaya Minangkabau.

Penulis saat ini berdomisili di Cupak Tangah,Padang. Mahasiswi angkatan 2022 Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.