Mengenang Leluhur, Tanda Berbakti Dihari Cheng Beng

by
Perayaan Cheng Beng di Kampung Hakok, Kelurahan Matras Sungailiat, Kabupaten Bangka, Minggu (04/04)

SUNGAILIAT, DEMOKRASIBABEL.COM – Perayaan Cheng Beng ataupun Chin Ming adalah hari sembahyang kubur (makam) dan ziarah tahunan pada makam orang tua ataupun leluhur dengan upacara penghormatan sesuai kepercayaan tradisi orang Tionghoa.

Tokoh Tionghoa Kabupaten Bangka sekaligus Peziarah Makam di Kp Hakok, Fu Nam Tjen (73) mengatakan Cheng Beng ataupun sembahyang kubur ini merupakan momentum untuk mengunjungi makam leluhur dan melakukan doa. Dimana pada Perayaan Cheng Beng ini jatuh di setiap tahunnya pada bulan ke 3 awal bertepatan pada kalender imlek.

“Perayaan Cheng Beng merupakan bagian pengingat ataupun pengenang orang-orang terkasih atau tercinta yang telah mendahului kita. Perayaan ini juga sekaligus mempererat hubungan bersama sanak keluarga bahwa di antara para orang mati, ada tradisi yang masih hidup,” katanya saat berziarah makam orang tua bersama anak-anaknya di Perayaan Cheng Beng TPU Kampung Hakok, Kelurahan Matras Sungailiat, Kabupaten Bangka, Minggu (04/04) pagi.

Dikatakannya, Cheng Beng ataupun sembahyang kubur ini bertujuan untuk menghormati dan menunjukkan tanda bakti sanak keluarga kepada leluhurnya. Terutama dari anak kepada orang tua atau leluhurnya dengan membawa beberapa makanan kesukaan semasa masih hidup didunia ditempat makam.

“Sebelum hari perayaan Cheng Beng tiba, terlebih dahulu dari sanak keluarga telah membersihkan makam. Seperti membersih rumput-rumput sekitar makam, mengecat makam, dan sebagainya. Setelah waktunya tiba, sanak keluarga mendatangi tempat makam orang tua/leluhur tersebut sambil membawa makanan, buah-buahan, kue, hio/dupa, lilin warna merah, baju dan uang yang terbuat dari kertas,” tuturnya

Kemudian, Sanak keluarga akan bersembahyang dan berdoa menggunakan hio di depan makam orang tua/leluhur. Dan dipercaya saat membakar hio tersebut, maka arwah orang tua/leluhur akan datang untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh sanak keluarganya di tempat makam.

“Selanjutnya bagi sanak keluarga yang telah sembahyang makam orang tua/leluhur, mereka akan meletakkan kertas perak berwarna kuning di badan makam dan diatas nisan makam orang tuanya. Hal itu sebagai pertanda bahwa makam tersebut telah dibersihkan atau telah dikunjungi oleh keluarganya,” ungkapnya.

Fu Nam Tjen berharap di perayaan Cheng Beng ini para arwah orang tua ataupun leluhur telah sampai di surga dan diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa. Serta bagi keluarga yang telah ditinggalkan dapat hidup rukun, damai, penuh rizki dan sehat selalu.

“Tanpa orang tua, kita tidak mungkin bisa ada di dunia. Untuk itu kita janganlah melupakan orang tua ataupun para leluhur. Dan sebisa mungkin luangkanlah waktu yang tidak begitu lama untuk memperingati Cheng Beng di setahun sekali ini,’’ ujar Fu Nam Tjen. (Suyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *