Menatap dan Menghidupkan Laut Bangka Belitung

by
Dr Robin SPi MSi (Dosen Akuakultur/Budidaya Perikanan Universitas Bangka Belitung, Ketua Ikatan Sarjana Perikanan (ISPIKANI) Cabang Bangka Belitung Periode 2020-2024.(istimewah)

Oleh: Dr Robin SPi MSi (Dosen Akuakultur/Budidaya Perikanan Universitas Bangka Belitung, Ketua Ikatan Sarjana Perikanan (ISPIKANI) Cabang Bangka Belitung Periode 2020-2024

Provinsi Bangka Belitung sudah berusia 20 tahun. Jika melihat bumi ini dari atas, maka sekitar 70% nya adalah air dan 30% nya adalah daratan. Indonesia, sekitar 70%-nya air dan 30%-nya daratan. Bangka Belitung, juga hampir 70%-nya air dan 30%-nya daratan. Sehingga tidak salah jika, Bangka Belitung disebut miniaturnya Indonesia. Juga tidak berlebihan jika kita merubah cara pandang kita terhadap laut, Menatap Laut.

Provinsi ini telah dianugrahi yang maha kuasa dengan wilayah seluas 81.582 Km2, terdiri dari wilayah daratan 16.281 Km2.Meliputi dua pulau besar, yaitu Pulau Bangka dengan luas 11.481 Km2 dan Pulau Belitung dengan luas 4.800 Km2,serta 950 buah pulau-pulau kecil dan panjang pantai 1.200 Km. Selain itu, Bangka Belitung punya luas perairan laut seluas 65.301 Km2. Pembagian luasannya adalah perairan laut Pulau Bangka 16.619 Km2 (25,45 % ) dan perairan laut Pulau Belitung seluas 29.606 Km2 (45,34 %). Dari total perairan laut tersebut, diperkirakan 20% diantaranya merupakan perairan karang. Ditambah lagi, jika kita menoleh ke wilayah daratannya, Bangka Belitung juga lahan yang berlimpah air tawarnya.

Secara geografis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki letak yang sangat strategis, sehingga dalam hal pemasaran berbagai produk hasil buminya, semestinya akan lebih mudah. Jangkauan lokal seperti ke Jawa, ke Sumatera, Singapura, dll. Kita terkesan lupa akan potensi besar yang bisa diperbaharui,yang jauh lebih menjanjikan, usaha yang dapat diturunkan sampai ke anak cucu, yang berasal dari laut dan pesisir. Karena kita sudah terbiasa dimanjakan oleh bijih timah.

Potensi sumberdaya alam yang dimiliki Bangka Belitung diantaranya: Pertama, Potensi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan yang melimpah baik dari segi persivitas maupun kuantitas. Kedua, Potensi Sumberdaya Pesisir, seperti terumbu karang (3.854 Ha, di sekitar perairan Pulau Bangka), pasir (19.424 Ha), padang lamun (491 Ha,umumnya golongan halophilla sp), rumput laut (seaweed) dari jenis hypnea sp, laurencia sp, dan kawasan perlindungan laut/konservasi berupa hutan bakau (mangrove) sebesar 29.912 Ha dan sempadan pantai sebesar 22,779 Ha. Ketiga,berupa potensi wisata bahari. Keempat, Potensi Oseanografi, seperti potensi angin sebagai sumber daya listrik,potensi arus dan gelombang laut, potensi cahaya matahari, dan sebagainya.

Kelima, potensi pengolahan ikan. Keenam, potensi pemasaran produk-produk perikanan. Dan Ketujuh, Potensi Budidaya, yang mana perairan pesisir Bangka Belitung hampir semuanya baik dan cocok untuk budidaya perikanan payau dan laut. Hampir seluruh jenis biota, baik yang di proritaskan (udang, kepiting, cumi, teripang, kerapu, kerang mutiara,rumput laut dll) ataupun yang tidak diproritaskan (Bandeng, baronang, dll), dapat tumbuh kembang dengan baik di laut kita.

Sehingga Menatap Laut, yang juga bermakna Menghidupkan Laut, adalah langkah strategis yang mesti diperhitungkan, untuk dijadikan sumber-sumber baru pendapatan asli daerah (PAD) Provinsi ini. Bukankah tanah dan sumber daya yang ada ini titipan dari anak cucu kita ? bukan pemberian anak cucu kita? Jadi Mari berfikir menghidupkan laut.

Bukan hanya laut dan pesisir, Penambangan biji timah oleh PT.Timah, Tbk dan PT.Koba Tin di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah sejak lama dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan PT Tambang Timah di tahun 2000, jumlah kolong pasca penambangan timah di Bangka dan Belitung sebanyak 887 kolong dengan luas 1.712,65 Ha. Terdiri dari 544 kolong dengan luas 1.035,51 Ha di pulau Bangka dan sebanyak 343 kolong dengan luas 677,14 Ha di pulau Belitung. Dari 544 kolong di pulau Bangka baru 108 kolong dilakukan reklamasi, dari 343 kolong di pulau Belitung baru 54 kolong dilakukan reklamasi. Jumlah kolong-kolong tersebut terus bertambah dengan pesat sejalan dengan semakin maraknya aktivitas tambang inkonvensional yang dikelola oleh masyarakat Bangka Belitung. Kolong-kolong tersebut baru sebagian kecil dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan air tawar. Pada tahun 2012, PT. Kobatin di Kabupaten Bangka Tengah tercatat meninggalkan kolong seluas 2000 Ha.

Dari sektor ekonomi, Pada tahun 2019, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami peningkatan, dengan pertumbuhan ekonomi 3,49%, namun pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini dinilai belum optimal, jika dibandingakan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional, yang sebesar 5,05% dan ekonomi Sumatera yang sebesar 4,62%. Pada tahun yang sama, laju pertumbuhan ekonomiProvinsi Kepulauan Bangka Belitung ini, menurut analisis BI dan BPS tahun 2019, disebabkan adanya peningkatan dari sektor perikanan. Yaitu meningkatnya permintaan dan harga komoditas dari produk perikanan.

Realitanya adalah pembangunan perikanan budidaya mengalami geliat tumbuh yang pesat, menjawab tingginya permintaan pasar, terutama budidaya udang vaname. Sektor perikanan dan kelautan mampu bertahan dan tetap eksis dalam kondisi perekonomian Indonesia yang masih terus belum membaik hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa sektor tersebut (perikanan budidaya) mempunyai peluang untuk menjadi sektor yang diandalkan sebagai solusi krisis yang membayangi masyarakat serumpun sebalai pasca timah, menciptakan pertumbuhan ekonomi, serta pemerataan dan kesempatan kerja mandiri.

Sebagai Provinsi yang memiliki sumber perikanan melimpah serta bentang wilayah yang mendukung kegiatan perikanan, sudah seharusnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitungmerubah caranya dalam Menatap Laut.Semua ini memang bukan tanpa tantangan, seperti (1) Sektor Pengelolaan Ruang Laut,yang menurut hemat kami butuh penguatan kelembagaan dalam pengelolaan Kawasan Konservasi. (2)Sektor Perikanan Tangkap, perlunya Tambat Labuh/Jetty di sentra-sentra nelayan, Permodalan bagi nelayan tangkap, Kelembagaan dalam pengelolaan Pelabuhan Perikanan dan Peningkatan teknologi penangkapan ikan bagi nelayan. Patut ditiru dan diapresiasi, capaian teman-teman di dinas perikanan Bangka Tengah dengan program SiDolpin-nya, sehingga para nelayan sudah tahu kemana arah melaut, hemat biaya tangkap dan bisa pulang cepat dengan hasil tangkap maksimal.(3) Sektor Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, tantangannya berupa begitu luasnya wilayah pengawasan di lautan sejak kewenangan 0 – 12 mil ada di provinsi (berdasarkan UU No. 23 Th. 2014). Terbayang bagaiman lelahnya teman-teman di Dinas Perikanan Provinsi, harus berjibaku mengawasi lautan, dengan personil dan teknologi terbatas. (4) Sektor Budidaya,tantangannya tak kalah kompleks. Mulai dari belum adanya fokus pengembangan Komoditas setiap kabupaten bahkan Provinsi,Ketersediaan alokasi ruang dan keterkaitan fungsi lokasi seta perihal Perizinan,belum adanya Daya dukung lingkungan secara komprehensif,hingga Investasi meningkat tetapi keterlibatan desa masih rendah, memposisikan perikanan budidaya terengah-engah mengejar larinya para investor (terutama tambak udang). Dan (5), Sektor Pengolahan Ikan dan Pemasaran Produk perikanan, menurut saran kami perlu dikoordir dengan baik dalam iklim usaha dan kelembagaan.

Menyadari banyaknya tantangan, yang tidak mungkin terselesaikan oleh satu pihak, atau satu Dinas, atau satu Kabupaten atau Provinsi saja, maka tercetuslah marwah bangkit bersama, meperbaiki bersama dan membangun bersama, dari para sarjana Perikanan yang ada di Provinsi Bangka Belitung.Sebagai organisasi profesi, ISPIKANI-Babel (Ikatan Sajana Peikanan Indonesia-cabang Bangka Belitung), merupakan organisasi non profit dan non politik.

Anggota didalamnya merupakan Seluruh sarjana perikanan dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia, yang tinggal/berdomilisi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari jenjang Strata-1 (S-1), Magister (MSi) hingga Doktor (Dr). Ditahun pertama berdirinya ini (tahun 2020), sudah tercatat anggota sebanyak 303 orang. Dan ini akan terus bertambah, seiring dengan lahirnya lulusan-lulusan perikanan baru di Bangka Belitung. Keanggotaan didalamnya dari berbagi unsur, yaitu Akademisi, Birokrat, Pengusaha, Hobbyist, dll. Pada tahun pertama berdirinya ini, memiliki program kerja yang jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Kesemua program tersebut dimaksudkan untuk mendukung percepatan pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari sektor perikanan.

Diharapkan Pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dapat bersinergi proaktif dalam bingkai konstruktif, demi Bangka Belitung yang lebih baik. ISPIKANI-Babel merasa sangat perduli dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan siap secara bersama-sama, membantu Provinsi ini mencari solusi dari setiap permasalahan perikanan yang ada. ISPIKANI-Babel juga mengharapkan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mampu megelola sumber daya alamnya, terutama dari sektor perikanan, secara 7T, yakni Terencana, Terarah, Terkonsep, Terpadu, Terlestari, Tertanggung Jawabkan dan Terevaluasi. Tentulah semua ini dimaksudkan agar Bangka Belitung ini, menjadi lebih baik. Semoga!(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *