Kebudayaan dan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Sirukam sebagai bentuk dalam menjaga hutan Nagari Sirukam

by
Foto: Oktavia Yaumaini Saputri (Jurusan Sastra Minangkabau, Anggota Aktif Mapastra, Fakultas ilmu budaya Universitas Andalas, Anggota Aktif Mapastra)

Penulis. : Oktavia Yaumaini Saputri (Jurusan Sastra Minangkabau, Anggota Aktif Mapastra, Fakultas ilmu budaya Universitas Andalas, Anggota Aktif Mapastra)

Demokrasibabel – Sebagai negara yang memiliki banyak keragaman budayanya, Indonesia memiliki daerah-daerah yang banyak belum diketahui masyarakat luas mengenai budaya yang ada di derah tersebut. Kebudayaan yang salah satunya terdiri atas kearifan lokal erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat dalam menjaga lingkungan tempat budaya itu berkembang.

Budaya merupakan akal pikiran yang mencakup adat istiadat atau kebiasaan yang sukar diubah serta bagaimana cara manusia menunjukkan perilakunya terhadap lingkungan yang ada di sekitar termasuk dengan alam. Budaya tentunya melekat pada daerah masyarakat tersebut menetap.

Unsur-unsur kebudayaan terdiri dari sistem Bahasa, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem religi dan upacara keagamaan, sistem kesenian, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem teknologi dan peralatan.

Nagari Sirukam adalah sebuah nagari yang terletak di Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, dengan ketinggian 600 – 1400 dari permukaan laut. Terdapat keunikan pada nagari ini yaitu budaya dan konservasi yang berjalan beriringan.

Pada dasarnya, sebuah kebudayaan timbul guna mengatur sebuah peradaban. Seperti halnya ketujuh unsur kebudayaan, Nagari Sirukam dapat memenuhi ketujuh unsur kebudayaan tersebut.

Sebagai wilayah yang sebagaian besarnya terdiri dari hutan, Nagari Sirukam menggantungkan hidup pada sektor hutan dan pertanian. Salah satu bentuk pengelolaan hutan di Nagari Sirukam ialah dengan adanya Hutan Nagari. Hutan nagari atau hutan desa berbeda dengan hutan adat.

Perbedaan hutan nagari dengan hutan adat ialah terletak dari dan untuk siapa pengelolaan hutan tersebut. Hutan nagari, dikelola oleh nagari dan manfaatnya dipergunakan untuk menunjang kehidupan masyarakat nagari, Sedangkan hutan adat dikelola oleh kaum adat dan manfaatnya untuk kaum adat.

Sistem kelola Hutan Nagari Sirukam yang berbasis konservasi ini tidak hanya habis pada pelestarian hutannya saja, namun juga mencakup pada pengelolaan hasil hutannya. Bentuk pelestariannya juga tidak hanya melalui pengelolaan oleh nagari tetapi juga melalui kebudayaan yang berkembang yang dipercayai sebagai salah satu cara tradisional masyarakat menjaga hutan nagari.

Dalam menjaga kelestarian hutan nya pemerintah nagari sirukam membuat sistem pengelolaan hutan nagari, nagari sirukam bekerja sama dengan Warsi membentuk Lembaga pengelolaan hutan nagari (LPHN) untuk mengelola dan menjaga hutan nagari sirukam, lphn sendiri bertugas melindungi hutan nagari terutama melindungi mata air.

Dalam menjaga kelestarian hutan nagari lphn membuat program kelompok usaha perhutanan sosisal (KUPS), kups ini bertugas untuk mengelola dan memanfaatkan hutan nagari sirukam menjadi sumber penghasilan Masyarakat sirukam dengan tetap menjaga ekosistem dan tidak menebang kayu di wilayah hutan nagari, kups yang terdapat di nagari sirukam ada 4, yaitu: kups kompos, kups lebah madu, kups kopi, kups ekowisata.

Nagari sirukam juga menyimpan banyak budaya dan adat, dalam menjaga budaya dan adat di nagari ini wali nagari sirukam tetap terus menjalankan tradisi Masyarakat seperti tradisi alek kepalo banda yang dilakukan selama 5 tahun sekali, tradisi bakaua lindang yang rutin dilakukan setiap tahunnya.

Dalam menjaga jejak Sejarah dan konservasi hutan nagari sirukam, pemerintah nagari membuat program pohon asuh yang di jalankan dan di Kelola oleh tim parimbo yaitu tim satgas hutan nagari, program ini masih dalam perogram Warsi.

Pohon asuh adalah program yang dilakukan dengan tujuan menjaga konservasi hutan nagari tersebut. Program pohon asuh ini merupakan pohon yang terdapat di hutan nagari sirukam memiliki ibu asuh yang nantinya nama pengasuh pohon ini akan di tempel di batang pohon.

Pohon yang dijadikan sebagai pohon asuh memiliki klasifikasi tersendiri. Jalur di sepanjang pohon asuh ini dinamakan sebagai jalur rantai, jalur ini memiliki Sejarah nya sendiri yang masih berhubungan dengan masa penjajahan Belanda. Dalam hutan nagari tersebut juga terdapat pohon kopi yang sudah ada dari sejak zaman penjajahan Belanda, di dalam hutan ini juga terdapat bekas tambang emas yang ada di dekat aliran air dan sepanjang jalur hutan ini, tambang emas ini dapat dibuktikan dengan peninggalan jejak jejak batu batu besar untuk menambang emas.

Sebagai wilayah yang terdiri dari sebagian besar hutan, Nagari Sirukam sangat menggantungkan kehidupan melalui sumber daya yang dihasilkan hutan. Selain itu, diketahui bahwa sumber mata air untuk Nagari Sirukam hanya terdapat pada satu titik yang terletak di bagian wilayah hutan. Untuk itu, pengelolaan hutan di Nagari Sirukam perlu dilakukan.

Dalam hal ini, maka dibentuklah Hutan Nagari Sirukam yang pengelolaannya dilakukan oleh nagari untuk hasil hutan yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat nagari Sirukam itu sendiri.

Hutan nagari ini di kelola oleh lembaga pengelola hutan nagari (LPHN) yang juga bekerja sama dengan KKI Warsi bertugas untuk menjaga hutan nagari dari illegal logging dan perusakan hutan, LPHN juga berguna untuk mempermudah masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan nagari maupun untuk manfaat lingkungan yang lainnnya.

Dasar pembentukan LPHN menurut udang-undang (UU) No. 18 Tahun 2013 Ruang lingkup undang-undang ini meliputi (i) pencegahan perusakan hutan; (ii) pemberantasan perusakan hutan; (iii) kelembagaan; (iv) peran serta masyarakat; (v) kerja sama internasional; (vi) pelindungan saksi, pelapor, dan informan; (vii) pembiayaan; dan (viii) sanksi.

Salah satu bentuk pengelolaan terhadap Hutan Nagari Sirukam ini adalah dengan adanya program pohon asuh. Pohon asuh adalah pohon yang memiliki donatur tidak tetap yang mendonasikan sejumlah uang dalam setahun untuk biaya pengelolaan pohon tersebut.

Pohon Asuh Nagari Sirukam dikelolah oleh LPHN dan memiliki anggota satgas Parimbo (perlindungan hutan) yang bertugas untuk memelihara hutan nagari terkhususnya pohon asuh. Tujuan utama diadakannya program pohon asuh ini adalah untuk melestarikan pepohonan yang ada di Hutan Nagari Sirukam, serta menjaga hutan dari maraknya penebangan liar (illegal logging).

Pohon yang telah diasuh akan ditandai dan mendapatkan jaminan untuk terus tumbuh. Pohon yang diasuh memiliki kriteria diantaranya diameter pohon yang lebih dari 40 cm dengan kisaran harga terendah Rp. 100.000 tergantung ukuran diameter pohonnya, lokasi tumbuh pohon yang tidak berada di tepi jurang ataupun lokasi-lokasi lain yang cenderung rawan tumbang.

Pohon asuh memiliki induk asuh yang mana induk asuh ini adalah mereka yang memberikan donasi untuk pohon yang telah meraka pilih. Adapun meraka yang memberikan donasi berasal dari Masyarakat umum. Hingga saat ini, telah terdapat sekitar 531 pohon yang terindentifikasi siap untuk diasuh, dan telah ada sekitar 214 pohon yang sudah memiliki pengasuh. Untuk cakupan pengasuh pohon ditargetkan kepada masyarakat umum, bahkan sudah ada beberapa pohon yang pernah diasuh oleh kalangan artis.

Foto : Pohon Asuh, dok. Kelompok Ekspedisi Siswa Menengah diksar XXIV ‘MAPASTRA’

Untuk menjaga kelestarian hutan nagari sirukam LPHN sampai saat ini terus berupaya dalam menjalankan program program yang sudah di buat, program LPHN ini terus berjalan. LPHN sebagai pengelola hutan nagari sirukam tidak hanya berfokus pada kegiatan pelestarian hutan, tetapi juga dalam pemanfaatan hasil hutan.

Dalam hal ini, LPHN juga membuat program lainnya yaitu Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang menjadi wadah pemanfaatan hasil hutan di nagari sirukam. Terdapat 4 KUPS bentukan LPHN yang saat ini berjalan di sirukam, yaitu:
1. KUPS Ekowisata
KUPS Ekowisata bergerak di bidang wisata yang berada di sekitar hutan nagari sirukam. KUPS ini dibentuk pada tahun 2022 yang diketuai oleh Rezki, dengan jumlah anggota 5 orang. “Karena sudah ada lokasi camping, di kasih bantuan 1 unit tenda glamping dan 1 unit tenda camping oleh dinas kehutanan.” Ucap Rezki dari KUPS Ekowisata. Progres pada KUPS Ekowisata ini telah mencapai tahap pembuatan camp ground, dan penyediaan sarana berupa ATV. KUPS ini berencana membuat jalan ATV di sepanjang jalur rantai atau jalur pohon asuh. Menurut Rezki ketika diwawancarai pada tanggal 24 Januari 2024, target utamanya untuk wisatawan yang akan berkunjung adalah para pencinta alamdan pegiat-pegiat alam yang memang mengerti cara merawat alam sehingga tujuan utama diadakannya konservasi tidak bertabrakan dengan kegiatan wisata.

2. KUPS Kopi
KUPS Kopi bergerak di bidang pengolahan tanaman kopi hasil budidaya para petani. Di hutan nagari sirukam terdapat tanaman kopi yang sudah ada dari sejak zaman Belanda, kopi ini dikenal juga sebagai Kopi Londo. Tinggi tanaman tersebut mecapai 3 m, namun sudah banyak juga tanaman kopi yang hasil peremajaan atau bibit baru, jenis kopi dari nagari sirukam adalah kopi arabica dan kopi robusta. Selain dari lahan hutan nagari sendiri KUPS ini juga mengambil kopi dari para petani kopi yang ada di sekitar nagari sirukam.

3. KUPS Lebah Madu
KUPS lebah madu bergerak di bidang peternakan lebah, lebah yang di ternak memiliki jenis Hitama dan torashika, KUPS ini sudah memiliki banyak anggota yang terdiri dari pkelompok tani hutan dan kelompok tani lainnnya, KUPS ini sudah memiliki 70 stup madu yang diletakkan di dekat kebun atau rumah anggota KUPS sendiri. Madu yang di hasilkan dari 1 stup sebanyak 1L.

4. KUPS Kompos
KUPS kompos bergerak di bidang pengelolaan limbah organik rumah tangga dan limbah hewan seperti kotoran hewan yang nantinya akan digunakan untuk pembuatan pupuk kompos ataupun pupuk organik.

Pohon Asuh Nagari Sirukam dikelolah oleh LPHN dan memiliki anggota satgas Parimbo (perlindungan hutan) yang bertugas untuk memelihara hutan nagari terkhususnya pohon asuh. Tujuan utama diadakannya program pohon asuh ini adalah untuk melestarikan pepohonan yang ada di Hutan Nagari Sirukam, serta menjaga hutan dari maraknya penebangan liar (illegal logging).

Pohon yang telah diasuh akan ditandai dan mendapatkan jaminan untuk terus tumbuh. Pohon yang diasuh memiliki kriteria diantaranya diameter pohon yang lebih dari 40 cm dengan kisaran harga terendah Rp.100.000 tergantung ukuran diameter pohonnya, lokasi tumbuh pohon yang tidak berada di tepi jurang ataupun lokasi-lokasi lain yang cenderung rawan tumbang.

Adapun manfaat yang dirasakan oleh masyarakat Nagari Sirukam atas adanya LPHN dan pohon asuh yaitu banjir dan longor serta mata air dapat dikendalikan, sehingga hutan dan Sungai menjadi lebih terjaga. Sehingga Masyarakat tidak lagi kekeringan dan kesulitan air walaupun masih diterapkan pengaliran air secara bergilir tiap jorong di Nagari Sirukam.

Ekspedisi ini dilakukan oleh mahasiswa pecinta Alam ilmu budaya universitas Andalas “MAPASTRA” yang dilakukan oleh Oktavia Yaumaini Saputri, Adni Salsabil Azizi, Nada ‘Afra Ghaisani, Dilham Fajar, kami berharap melakukan artikel ini dapat membuka wawasan para pembaca untuk ikut andil dalam pelaksanaan konservasi dan meningkatkan rasa kepedulian kepada lingkungan sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.