Ibrahim : Antusias Masyarakat Babel Terkait Pilkada Cukup Baik

by
Rektor Universitas Bangka Belitung, Dr Ibrahim MSi (istimewah)

PANGKALPINANG, DEMOKRASIBABEL.COM – Rektor Universitas Bangka Belitung, Dr Ibrahim MSi turut mengomentari hasil Pilkada empat kabupaten di Provinsi Bangka Belitung cukup menarik, karena antusias masyarakat terhadap pelaksanaan Pilkada di daerah itu juga cukup baik.

Berdasarkan pengamatannya, sementara partisipasi masyarakat dalam Pilkada ini cukup baik, meski didahului oleh cuaca buruk pada malam harinya dengan sedikit mendung pada pagi hari pencoblosan.

“Saya melihat bahwa masyarakat cukup antusias dengan pola pencoblosan yang cukup mudah karena hanya berisi satu lembar surat suara. Di banyak tempat yang sempat kita amati, para petugas KPPS cukup kreatif dalam menghadirkan suasana baru, terutama terkait dengan model TPS yang terdandani di sebagian tempat, berikut protokol kesehatan yang diterapkan,” ungkap Ibrahim saat dikonfirmasi, Rabu (9/12)

Ibrahim mengatakan, meski hasil resmi penghitungan belum dirilis secara resmi oleh KPU, terlihat hasil Pilkada 2020 sudah dikonsumsi secara luas. Menurutnya, hasil perhitungan cepat Pilkada 2020 cukup menarik untuk dibaca. Sekaligus menunjukkan bahwa pola kemenangan dan kekalahan semakin rumit dan sulit dibuat polanya.

“Saya mulai dari Bangka Barat yang menghadirkan kejutan baru dengan terhempasnya incumbent. Sukir dan Bong menukik melesat di atas incumbent dengan selisih suara yang cukup berbeda dibandingkan dengan pilkada-pilkada sebelumnya. Rumus bahwa incumbent kuat nampaknya mengalami antitesa dan hal ini menunjukkan bahwa pemilih Bangka Barat memang dinamis. Tumbang-menumbangkan saya kira menjadi rumus menarik yang ada di daerah ini dan saya melihat bahwa Bangka Barat selalu menghadirkan kejutan,” papar Ibrahim yang juga Dosen Ilmu Politik UBB.

Di Bangka Selatan, Ia menyebutkan incumbent wakil bupati berjaya, sekaligus menuntaskan harapan tiga pasangan lainnya yang cukup berat. Riza dan Deby memang melawan putra incumbent bupati dan Rina Tarol yang cukup berpengalaman dalam sejarah kontestasi kepemiluan di daerah ini. Sama dengan Bangka Barat, pemilih Bangka Selatan sangat cair dalam mengangkat dan menumbangkan incumbent, tentu dengan beragam ceritanya.

Sementara itu, Ibrahim menilai kejutan justru datang dari Bangka Tengah. Di atas kertas, kans Didit-Korari lebih kuat diunggulkan. Selain keduanya adalah pasangan yang berpengalaman dalam dunia politik, drama meninggalnya incumbent bupati menjadi salah satu cerita yang diperkirakan akan memuluskan jalan pasangan ini.

“Faktanya, ia tersalip cukup jauh oleh pasangan Beriman. Kejutan ini melengkapi cerita getir dimana Didit adalah tokoh yang selalu unggul jauh dalam perolehan suara beberapa pemilihan legislatif yang boleh disebut sebagai kandangnya. Namun saya kira masyarakat sudah menentukan pilihannya dan pilihan ini adalah keinginan mayoritas masyarakat,” terangnya.

Di Belitung Timur, wakil bupati incumbent berhasil unggul dan mengalahkan putra Yusril Ihza Mahendra. Ia menyebutkan sebenarnya kemenangan ini sudah cukup jauh diprediksi.

“Hanya saja tetap saja kita melihat bahwa sosok muda ternyata belum cukup kuat dipercaya dalam Pilkada kali ini. Burhanudin nampaknya tahu betul menempatkan posisinya selama menjadi wakil bupati dan ini saya kira menjadi alasan mengapa ia terpilih,” katanya.

Menatap Pemilihan Gubernur Babel mendatang, Ia mengatakan dalam konteks politik, tentu saja hasil Pilkada 2020 ini mengharuskan semua politisi menghitung kembali peta suara pada Pemilihan Gubernur Babel selanjutnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan rumus dominasi parpol tentu saja harus dievaluasi kaitannya dengan peta politik di jenjang berikutnya. Peta baru ini akan mempengaruhi kalkulasi politik diatasnya.

“Tapi saya lebih tertarik untuk mengajak masyarakat luas untuk menerima hasil Pilkada ini dengan objektif, lalu mengawal proses kepemimpinan yang akan segera berjalan, dan kelak baru kita hitung-hitungan lagi sesudah Pilgub sudah dekat. Ada masa dimana elit berkompetisi, ada masa dimana kita semua harus bekerja,” tegasnya.

“Bagi pemenang, tantangan pembuktian janji sedang menunggu. Bagi yang kalah, biasa saja. Toh kompetisi berikutnya akan kembali membuka peluang untuk terlibat lebih intens. Menang bukan segala, kalah bukan pula akhir semuanya. Yang menang mengakomodir yang kalah, yang kalah mendukung yang menang. Dengan cara itu, kita akan melihat kontestasi cukup ritual lima tahunan, selebihnya kita bekerja dan berkarya. Dan, rumus menang-kalah semakin sulit ditebak, juga oleh para pensurvey sekalipun,” pungkas Ibrahim.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *