Dosen UBB : Tambak Udang Vaname Harus Perhatikan Daya Dukung Lingkungan

by
Kampus UBB (Istimewah)

BABEL, DEMOKRASIBABEL.COM – Dosen Budidaya Perairan Universitas Bangka Belitung (UBB), Robin mengatakan Budidaya tambak udang vaname harus memiliki carrying capacity dalam artian harus memperhatikan daya dukung lingkungan.

Menurutnya perencanaan tersebut sangat penting dilakukan untuk melihat kemampuan lingkungan untuk mendukung, mengurai dan menetralkan limbah-limbah hasil buangan budidaya tambak udang.

“Tambak udang vaname seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa jika dikelola dengan baik dapat memakmurkan masyarakat Babel, di sisi lainnya jika tidak dikerjakan dengan baik dapat menjadi bumerang dan memiskinkan masyarakat itu sendiri,” katanya.

Terkait hal itu kata Dia, sudah saatnya Provinsi Bangka Belitung harus memiliki blue print pembangunan perikanan, terutama tambak budidaya. Dengan hal tersebut dapat menjadi rencana besar dan rencana umum budidaya pesisir mengenai batas maksimal untuk mendukung buangan limbah tambak.

Ia mengatakan, carrying capacity memiliki beberapa tahapan, yang pertama geospasial yaitu pemetaan dengan menghitung daerah mana yang boleh dan daerah yang tidak boleh, karena tidak boleh bertentangan dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah).

Kemudian tidak boleh mengambil wilayah 100 meter dari sepadan pantai, tidak boleh 300 meter berhadapan langsung dengan kawasan pariwisata, serta tidak boleh tumpang tindih dengan tata ruang yang lain, seperti RZWP3K.

“Yang kedua berdasarkan geofisika sifat kimia air, berdasarkan sifat kimia air tadi yakni kita ukur kualitas airnya, kita petakan potensinya bagaimana. Baru tahap ketiganya kita hitung kualitas air kita berapa mampu menampung limbah merombak, kita punya bakteri di laut berapa, mampu merombak limbah berapa banyak,” tambahnya.

Setelah itu, baru menghitung mass balance yakni berapa massa yang terbuang dari limbah kegiatan budidaya udang tersebut. Serta massa yang akan naik sehingga mendekati angka aman untuk lingkungan. Hal tersebut biasanya dihitung dari berapa jumlah luasan bakau dan mikroorganisme kecil yang ada di payau dan di laut.

“Karena mereka semua agen-agen pengurai, kalau limbah berlebihan dibuang mereka mati. Kalau mati tidak ada penghancur limbah akibat tambak, otomatis limbah dibuang tanpa saringan ujung-ujungnya manusia juga yang susah nantinya,” ujarnya.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *