Buku dan Kehidupan

by

Sumbar – Buku merupakan sebuah catatan yang berisikan pengetahuan-pengetahuan yang belum kita ketahui. Buku tentu berhubungan dengan membaca karena orang yang bisa meneelaah isi buku adalah orang yang bisa membaca. Ketika orang itu buta huruf maka kecil kemungkinan orang tersebut memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan orang yang bisa membaca. Setiap orang yang suka membaca buku maka itu adalah dia bisa membuka cakrawala dia sendiri karena hal inilah seseorang sangat dianjurkan untuk membaca.

Kehidupan adalah sesuatu yang bernyawa yang ada dalam diri seseorang. Manusia tentu hidup di muka bumi menjalankan aktivitas baik yang memiliki kesenangan maupun kesedihan tersendiri bagi dirinya. Seseorang yang hidup tentu mempunyai lembar-lembar dalam kehidupan. Begitu juga dengan buku, buku tentu memiliki isi didalamnya. Setiap halaman dari isi buku itu tentu berbeda-beda dengan sendirinya.

Begitu juga dengan kehidupan, tentu berhubungan dengan buku, kita ibaratkan saja dengan hari-hari kita itu lembaran-lembaran buku. Maka hal ini bisa membuat hari kita berbeda dengan hari kemarin maupun besoknya. Tentu sebelum kita membaca buku ke halaman berikutnya tentu kita akan penasaran dengan isi halaman tersebut. Isi halaman yang didepan(belum dibaca) adalah sebuah masa depan. Begitu juga yang telah dibaca itu adalah sebuah masa lalu.

Kita tentu sebelum merasakan tidak tahu bagaimana hari esok kita, apakah bisa membuat kita senang, sedih, bahagia dan lainnya. Hal ini tentu berkaitan dengan isi buku ketika kita penasaran dengan halaman selanjutnya maka kita akan terus membaca-membaca sampai ke halaman yanh didepan tersebut. Masa depan adalah sebuah hal yang menjadi misteri, karena tidak bisa kita tebak dengan akal kita. Tentu berbeda dengan masa lalu. Ketika kita memiliki masa lalu maka itu adalah sebuah pelajaran serta pengalaman.

Masa lalu tentu didalam buku adalah halaman yang telah kita baca. Sama juga dengan kehidupan, buku yang telah kita baca tentu memberikan sebuah pelajaran, halaman setiap buku itu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap halaman adalah suatu hal yang bisa memberikan sebuah pengalaman dan bisa juga memberikan ilmu, kesedihan. Banyak hal yang didapat didalam satu halaman buku, begitu juga dengan satu hari kita diatas dunia, banyak hal yang dapat kita rasakan, baik itu senang, sedih maupun gembira.

Setiap kali kita membaca buku, tentu kita tidak beranjak dari halaman satu ke halaman lain. Kita ibaratkan saja usia satu tahun halaman satu, begitu seterusnya sampai kita meninggalkan dunia. Didalam halaman kehidupan kita, kita ibaratkan saja rangkaian kata-kata itu adalah peristiwa yang kita alami dalam satu tahun itu. Begitu sampai seterusnya, maka ketika kita bisa mengambil dan membaca lagi peristiwa dalam kehidupan kita. Maka bisa membuat kita tenang serta perasaan kita tenang. Untuk itu kita sebagai orang kita ibaratkan saja hidup kita itu seperti kita sedang membaca buku.

Membaca tentu tidak semua orang menggemari hal tersebut. Kita tentu hidup tidak lepas dari membaca. Membaca adalah salah satu jalan untuk bisa merubah sikap kita. Begitu juga halnya dengan membaca sebuah buku, maka kita ibaratkan kita bisa membaca pengalaman kita lagi, kita lihat pengalaman kita lagi agar tidak terjerumus ke lubang yang sama di kemudian hari. Orang yang suka membaca dan menganilisi pengalaman dia, maka kesempatan untuk berubah dirinya itu lebih besar ketimbang orang yang tidak mau seperti itu.

Untuk itu buku dan kehidupan itu adalah suatu hal yang sama, berjalan, berputar secara bersama. Kita pikirkan hidup kita itu seperti buku yang ada, lembaran itu bisa saja menjadi masa lalu dan juga masa depan. Untuk itu kita diharuskan untuk membaca buku(asli) dan membaca buku kehidupan kita karena degan membaca bisa membuat pengetahuan kita bertambah, bisa juga membuat pengalaman hidup kita bertambah. Orang yang gemar membaca kedua ini adalah orang yang bisa belajar dan ingin menjadi orang yang lebih maju dibandingkan orang lain di sekitarnya.

Jangan pernah malu kita pernah membaca karena membaca itu bukan hanya membaca buku saja. Setiap orangmemiliki alur kehidupan yang unik dan masing masing memiliki sejarah dan kehidupan memilik episode diinspirasi sebuah hadis nabi “bila anak adam meninggal dunia, maka akan terputuslah seluruh amal perbuatannya kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang soleh” (HR Muslim).

Pada episode 20 tahun pertama, ini adalah fase perkembangan fisik yang berhubungan dengan sisi kuantitatif fisik seperti perubahan morfologi seperti tinggi badan, berat badan, sedangkan sisi kualitatif seperti konstruksi pola fikir dan keperibadian keberhasilan dari fase ini menitik beratkan pada peran sebagai “anak yang soleh.” Memiliki motivasi diri untuk terus berkembang dengan segala khazanah untuk tampil kreatif dan terampil.

Kemudian menuju paruh episode 20 tahun kedua yakni di usia 40 an, ini adalah fase eksistensi dan aktualisasi tahapan ini menekankan agar seseorang telah menguasai nilai-nilai kehidupan lalu mengimplementasikannya, pepatah barat “life begins at forty” fase dimana manusia mencapai kematangan keperibadian “wisdom” dalam hidupnya.

Kita bisa meneladani Rasulullah dimana ketika usia beliau memasuki fase 40 anbeliau dilantik menjadi Rasul dan di usia itu pula sudah sukses dlam karier dan memiliki social yang kredibel dimn beliau juga sudah memperoleh titik kekayaan dan kejayaanya, namun aktualisasi diri Rasulullah jauh dari sifat duniawi.

Fase 20 tahunan ketiga adalah fase persiapan jelang “sunset” dimana orang harus bedamai dengan kenyataan fisiknya yang mengalami penyusutan; mata mulai rabun betapa benda duniawi mulai menjauh, warna alam sekitar sudah tidak cerah lagi, warna biru langit yang terlihat sewaktu muda menjadi menguning kecoklat coklatan seperti daun yang layu dan mongering, gigi akan tanggal satu persatu, lidah mulai atropi sehingga kelezatan makann mulai hambar, badan membungkuk dan rambut sudah memutih dan kehilangan bayak material kolagen dan elastin yang memberi struktur kencang pada kulit.

Fase di usia 60 tahunkeatas ini harus memiliki ”hati yang selesai” atau disebut dengan hati yang duduk bersila lebih bijak namun bila Tuhan masih menganugerahi fase berikutnya adala 20 an keempat yakni 80 tahun yang bidsa dikatakan bonus dari Allah.

Penulis adalah Dendi Azani Pratama Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.