Berstatus Terdakwa, Dugaan Pengerusakan Jembatan Penghubung Desa Mendo Tidak Dilakukan Penahanan

by
Persidangan dugaan pengerusakan jembatan penghubung Desa Mendo di Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat, Kabupaten Bangka, Senin (26/04)

SUNGAILIAT, DEMOKRASIBABEL.COM – Dua orang yakni Saudara SW dan PT berstatus terdakwa atas pengerusakan jembatan penghubung antara bukit Rui dengan Desa Mendo, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka pada pertengahan bulan Januari 2021 lalu sampai saat ini tidak dilakukan penahanan.

Persidangan sebelumnya kedua terdakwa tersebut didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Riski dan Fitri dengan pasal 170 ayat 1 KUHP dan pasal 406 ayat 1 KUHP dengan ancaman minimal 5 tahun penjara.

Kini proses persidangan tersebut memasuki agenda menghadirkan keterangan saksi dari terlapor di Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat, Kabupaten Bangka, Senin (26/04).

Kepala Humas Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat, Firman menyampaikan agenda kali ini adalah dakwaan pertama pasal 170 ayat 1 KUHP dengan terang-terangan dan tenaga bersama mengunakan kekerasan terhadap orang atau barang. Dan dakwaan pasal 406 ayat 1 KUHP junto pasal 55 KUHP dengan terang-terangan melakukan pengerusakan.

“Hari ini agendanya menghadirkan keterangan saksi dari penuntut umum dan minggu depan saksi dari pihak terdakwa. Setelah itu dilakukan pemeriksaan dari terdakwa dan selanjutnya menunggu tuntutan dari penuntut umum. Dari tuntutan itu pula ada kesempatan untuk pledoi dan ada hak lagi dari penuntut umum untuk menjawab,terus menanggapi dari replik nya,” katanya kesejumlah Wartawan di PN Sungailiat, Senin (26/04).

Dikatakannya, terdakwa saat ini tidak dilakukan penahanan. Kemarin Jaksa Penuntut Umum (JPU) hanya melakukan penahanan di rumah, begitu juga dilanjutkan Pengadilan Negeri (PN). Akan tetapi kalau persidangan, mereka harus datang menghadiri, itu artinya mereka (terdakwa) masih koperatif.

“Jadi kira-kira paling sedikit 4 kali persidangan lagi, mungkin sudah selesai,” ujarnya.

Sementara itu, saksi pengerusakan jembatan tersebut, Raden Lorensius Joni mengatakan kehadirannya ini memberikan keterangan apa adanya sesuai fakta dilapangan. Tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.

“Saya membangun jembatan kurang lebih 7 – 8 meter dan lebar sekitar 4 meter tersebut untuk akses masyarakat juga dan bukan lah untuk kepentingan pribadi. Dan dua orang yang kini berstatus terdakwa diduga pelaku pengerusakan jembatan yang saya bangunkan pada pertengahan bulan Januari 2021 lalu,” katanya saat diwawancarai sejumlah Wartawan selesai memberikan keterangan saksi nya di PN Sungailiat, Senin (26/04).

Menurutnya, kalau sudah berstatus terdakwa, mestinya pihak kepolisian maupun kejaksaan melakukan penahanan terhadap terdakwa. Akan tetapi terkait kebijakannya, kita tidak tau kejelasannya bagaimana. Karena kalau masyarakat sudah melaporkan perlakuan kerusakan itu, intinya ada bentuk kekecewaan terhadap pelaku.

“Hal itu sebagai pembelajaran, karena kita ini wilayah hukum dan jangan bertindak seenaknya. Jembatan itu dirusakkan mengunakan gerjaji dan itu sudah merupakan unsur kesengajaan untuk mencelakakan orang bila melewati jembatan. Seperti ada beberapa balok jembatan dipotong habis dan ada juga yang tidak. Nah’kalau ada mobil atau motor yang melewati jembatan itu, pastilah mengalami amblas ataupun kecelakaan,” ungkapnya

Dikatakannya, hal semacam ini tentunya sangat berbahaya jika jembatan yang dirusakkan tersebut dilewati penguna jembatan. Bisa saja ini sebuah jebakan, bukannya merusak jembatan,seperti adanya pembiaran agar penguna jembatan amblas begitu saja.

“Menjalani persidangan di PN ini tentunya dapat memberikan efek kerah kepada terdakwa, supaya perbuatannya tidak terulang kembali dikemudian,” harapnya. (Suyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *