Perkara Dugaan Penggelapan Harta Bersama Dengan Tersangka Hengky Tjhin Terus Ditangani Polda Babel

By Demokrasibabel 24 Okt 2019, 09:46:06 WIBHukum

Perkara Dugaan Penggelapan Harta Bersama Dengan Tersangka Hengky Tjhin Terus Ditangani Polda Babel

Keterangan Gambar : Foto : Ilustrasi (istimewah)


PANGKALPINANG, DEMOKRASIBABEL.COM – Perkara dugaan penggelapan harta bersama kurang lebih Rp50 miliar dengan tersangka Edwin Tjin alias Hengky yang dilaporkan Drg Susylawati sejak pertengan tahun lalu masih terus ditangani oleh Subdit 2 Harta Benda, Ditreskrimum Polda Bangka Belitung.

Kapolda Kepulauan Bangka Belitung, Brigjen Pol Istiono mengatakan kasus tersebut harus menjadi perhatian bersama antara penyidik dan pihak penuntut umum di Kejaksaan Tinggi bangka Belitung.  

Kasus yang telah ditangani sekitar satu tahu ini telah enam kali bolak balik berkas (P19) antara Kejaksaan dan Polda namun belum memiliki kepastian hukum. 

"Satu sisi kita hargai hak penuntut umum untuk itu semua (mengembalikan berkas ke penyidik.red) tapi di sisi lain penyidik sudah bekerja maksimal dan profesional memenuhi segala petunjuk jaksa. Kepastian hukum dalam perkara ini harus secepatnya terang, karena menyangkut nasib hukum orang," kata Kapolda.

Terkait dengan teknis penyidikan menurutnya pihak penyidik yang paling paham dan mengerti. 

"Kalau soal teknis penyidikan tanya penyidik ya. Tapi untuk semangat hukumnya, kita berharap secepatnya kasus ini tuntas dan disidangkan. Nanti di pengadilan yang akan memutuskan salah benarnya," ujarnya.

Kasubdit II Harda Ditreskrimum Polda Babel, AKBP Dheny Budiono mengatakan dalam penanganan perkara ini pihaknya sudah bekerja secara profesional. Dari ekspos yang digelar penyidik perkara ini telah terjadi tindak pidana sehingga penyidik menetapkan tersangka Edwin Tjin alias Hengky yang merupakan mantan suami dari drg. Susylawati.  

Namun di sisi lain pihak jaksa penuntut umum di Kejaksaan Tinggi memiliki penafsiran hukum berbeda atas kasus ini mereka beranggapan ini merupakan kasus perdata sehingga harus diselesaikan lewat perdata. 

"Bagi kami ini tetap merupakan kasus pidana. Selain bukti-bukti kuat yang telah dikantongi penyidik, juga ahli  sudah dimintai keterangan guna memperkuat penyidikan. Ahli memberikan keteranganya sesuai kapasitas masing-masing yakni perdata dan pidana. Ahli menyatakan kasus ini terdapat pidana," katanya.

Terpisah jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, Radyan, membenarkan pelimpahan berkas perkara tersebut masih P19. Karena masih ada petunjuk yang harus dipenuhi penyidik. 

"Masih ada petunjuk yang harus dipenuhi, sehingga kita belum bisa mem-P21-kannya," katanya kepada wartawan.  

Menurutnya kasus tersebut merupakan perdata dan masih ada proses perdata yang masih berlangsung di peradilan. Oleh karenanya agar kasus tersebut terselesaikan dulu secara utuh proses perdatanya. 

"Bilamana selesai seluruh proses perdatanya, maka baru ke ranah pidananya. Jangan tumpang tindih, kita juga profesional dan lurus-lurus saja, tanpa ada intervensi apapun," ujarnya. 

Disinggung penyidik telah menyertakan ahli dalam penanganan perkara ini, menurutnya kesimpulan dari pihak ahli tersebut masih mengambang dan berbeda. Dimana ada dua sisi kesimpulan yakni ahli pidana menyatakan pidana sementra perdata menyatakan perdata. 

"Dari kesimpulan para ahli juga tidak menyatakan satu kesimpulan, jadi yang mana yang harus dipakai itu. Makanya kita menunggu saja proses perdatanya selesai," tukasnya.  

Sementara itu Hengky saat wartawan mengkonfirmasi mengatakan menyerahkan penanganan perkara ini sepenuhnya kepada penegak hukum. 

"Silahkan ditanyakan ke pihak yang berwenang atau narasumber terkait," katanya melalui melalui pesan whatsapp.

Dalam pusaran perkara ini,  berawal dari laporan polisi di Bareskrim Mabes oleh mantan istri tersangka Hengky yakni Tjong Ai Chen alias drg. Susylawati warga jalan Muhidin, Kelurahan Sungailiat pada 5 Juni 2018. 

Dalam laporanya memuat atas dugaan  tindak pidana penggelapan dan atau pencurian dan atau keterangan palsu dan atau pemalsuan surat atas terlapor mantan suaminya itu. Lalu oleh Bareskrim perkara dilimpahkan ke  Ditreskrimum Polda Bangka Belitung agar ada kepastian hukum.

Dugaan harta yang digelapkan sebanyak  16 item. Kemudian harta bersama ada sekitar 10 item.  

"Jadi dulu ada harta bersama dibagi mereka limpahkan sebagian harta kepada ketiga anak mereka. Kemudian dibikin surat perjanjian hibah atas harta bersama (23 Januari 2015)," kata penasehat hukum dari pihak pelapor yakni, Hadi Salampesi.  

"Itu entry pointnya kalau hartanya mau dijual atau dibagikan harus dengan persetujuan masing-masing. Jadi di surat perjanjian posisi drg. Susy dengan mantannya adalah pemberi hibah, bukan penerima hibah. Di tengah jalan lalu mantan suami yakni Hengky tanpa persetujuan mantan istri telah menjual aset-aset tersebut, sehingga  klien kita  dirugikan," katanya. (Red)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment