Penambang Pasir Kawasan Jelitik Kibuli Petugas Dengan Surat Retribusi Kedaluarsa

By Demokrasibabel 14 Okt 2019, 18:26:53 WIBBangka

Penambang Pasir Kawasan Jelitik Kibuli Petugas Dengan Surat Retribusi Kedaluarsa

Keterangan Gambar : Satpol PP Kabupaten Bangka mendatangi lokasi pertambangan pasir dikawasan Jelitik Sungailiat, Senin (14/10)


SUNGAILIAT, DEMOKRASIBABEL.COM - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangka yang dipimpin oleh Kabid Penegak Perda mendatangi lokasi pertambangan pasir dikawasan Jelitik, Kecamatan Sungailiat, Senin (14/10).

Kedatangan Satpol PP tersebut guna melakukan penertiban terkait surat aktivitas pertambangan pasir yakni pembayaran retribusi galian C, namun penambang pasir tersebut memberikan surat retribusi lama yang sudah kedaluarsa kepada petugas Satpol PP.

Kasat Pol PP Kabupaten Bangka melalui Kabid Penegakkan Perda, Achmad Suherman menyampaikan silahkan beraktivitas penambangan, jika sudah membayar retribusi. Namun pihak penambang belum juga membayar retribusi bahkan mereka (penambang) mengeluarkan surat retribusi yang lama dan sudah kedaluarsa.

"Karena surat retribusi yang sudah kedaluarsa tertera dari 31 Juni sampai 31 Juli tersebut, maka kami hentikan terlebih dahulu," ujarnya.

Ia mengatakan, para penambang pasir akan membayar retribusi kekantor BP2RD berikut dengan penunggakkanya. 

"Karena mereka belum memperpanjang surat retribusi, tetapi sudah lama beraktivitas penambangan bahkan penjualan pasir. Jika tidak dibayarkan juga dan memperpanjangkan suratnya, maka kami akan hentikan," katanya.

Dikatakannya, membayar retribusi itu perlu, karena itu masuk PAD. Pihaknya juga memaklumi bahwa pasir ini untuk pembangunan terutama untuk masyarakat.

"Pembayaran retribusi ini untuk kebijaksanaan para penambang pasir yang diharuskan membayar retribusi. Retribusi itu ada hitung-hitunganya dikantor BP2RD sesuai hasil pendapatan," jelasnya.

Dari penertiban yang dilakukan, penambang pasir telah sepakat akan membayar dan memperpanjang retribusi. 

"Kalau penambang tersebut tidak juga mau membayar retribusi, maka harus segera dihentikan," tegas Achmad.

Sementara itu operator PC mini, Dani mengatakan bahwa pasir tersebut dijual dengan harga Rp100 ribu per mobil truknya.

"Sudah satu bulan lebih, saya kerja sebagai operator PC di tambang pasir ini dan dikoordinir oleh oknum aparat (Red)," katanya. (Suyanto)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment