Begini Keteladanan Seorang Dokter Saat Melaksanakan Swab Covid-19

by
Juru Bicara Satgas Covid-19 Bangka bersama Sekretaris Dinkes Bangka mendengar permasalahan yang terjadi di Puskesmas Pemali, Kabupaten Bangka, Selasa (15/12)

PEMALI, DEMOKRASIBABEL.COM – Keteladanan seorang dokter dari puskesmas Pemali, Kabupaten Bangka saat melaksanakan tugasnya melakukan swab covid-19 merasa dipukuli oleh pimpinannya. Prihal menolak untuk dilakukan test swab dengan alasan tidak kontak erat dengan tenaga kerja kesehatan yang terkonfirmasi positif covid-19.

Hal tersebut disampaikan Akbar kepada sejumlah Wartawan saat melaporkan peristiwa pemukulan terhadap dirinya di Polsek Pemali, Senin (14/12) sore.

Sebelumnya, pada Minggu (13/12) malam adanya perbedaan pendapat antara Kadinkes dengan istrinya Kepala puskesmas, dimana istrinya ini seorang dokter juga. Istrinya Kepala puskesmas Pemali ini meminta di asismen dan Kita juga menunggu asismen nya seperti apa sampai dengan batas waktu yang ditentukan.

“Nah’ kalau tidak ada asismen tersebut, maka Kita akan lakukan swab bagi seluruh pegawai Puskesmas Pemali,” katanya.

Sehabis itu, Kita infokan didalam group internal puskesmas Pemali, kenapa ada satu orang tenaga kerja kesehatan puskesmas tidak mau dilakukan swab. Dan tentunya sebagai tenaga kerja kesehatan itu haruslah peduli, jika mau mengedukasi kan masyarakat umum.

“Setelah itu, Saya pun di WhatsApp secara pribadi oleh nya (Kepala Puskesmas) untuk menemui nya diruangan. Dan di ruangannya terjadi perbedaan pendapat lagi terkait asismen tersebut. Karena Kita pun tidak tahu asismen nya seperti apa dan tidak ada koordinasi dengan kami selaku dokter. Tentunya kami pun binggung asismen nya mau seperti apa,” ujarnya

Dengan begitu, ia pun mulai emosi dan mengatakan maksudnya apa untuk menulis hal tersebut didalam group dan saya pun tidak menjawab untuk itu. Sehingga ia mau melempar buku, namun tidak terjadi. Dan ia pun mendekati saya hingga menonjok muka disebelah kanan serta mengebrak meja dengan mengatakan asismen sebanyak tiga kali dan saya pun keluar dari ruangannya sekitar pukul 11:45 – 12:00 WIB.

“Dari hal tersebut, saya mengalami luka dibagian bibir sebelah kanan dan luka benjolan serta memar akibat tonjokan nya. Kita tetap akan lanjut melalui proses hukum, karena selaku bawahan merasa terintimidasi dari pimpinan. Habis bagaimana bisa mau bekerja nyaman dan tenang, kalau sebagai pimpinan demikian. Lagian terkait swab itu Kadinkes juga sudah memerintahkan kontak erat ataupun tidak, semua tenaga kesehatan harus dilakukan swab,” ungkap Akbar.

Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid-19 Kabupaten Bangka, Boy Yandra bersama Sekretaris Dinas Kesehatan Bangka, Harmendo sudah mendatangi puskesmas Pemali guna mendengar permasalahan yang terjadi antara pimpinan dengan bawahan, Selasa (15/12).

“Pimpinan Puskesmas Pemali sudah melakukan permohonan maaf melalui WhatsApp kepada bawahannya (dr Akbar), karena prilaku tersebut sudah diakuinya dan ia pun khilaf,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Bangka, Boy Yandra melalui pesan WhatsApp, Selasa (15/12) sore.

Awal mula, hal tersebut hanya Miss komunikasi saja. Dimana ada salah satu pegawai Puskesmas pemali tersebut terkonfirmasi positif covid-19. Kemudian untuk mentracking bagi yang kontak erat akan dilakukan test swab dan yang tidak kontak erat dilakukan rapid test.

“Dalam hal ini, Pimpinan Puskesmas Pemali sendiri sudah dilakukan rapid test dengan hasil menunjukan non reaktif. Nah’ dengan merasa tidak kontak erat tersebut, maka ia (pimpinan Puskesmas) tidak merasa Wajib dilakukan test swab. Sehingga hal inilah yang terjadi permasalahan bagi dokter Akbar yang sedang bertugas melakukan test swab guna memutus mata rantai penyebaran covid-19,” tuturnya.

Menurutnya, kalau hasil rapid test nya menunjukan reaktif, maka yang bersangkutan (Pimpinan Puskesmas) tentunya akan siap mengikuti test swab. Namun karena hasilnya menunjukan non reaktif, maka ia pun melakukan isolasi mandiri dikediamannya.

“Jadi bagi kedua belah pihak diharapkan dapat bermediasi dengan baik secara kekeluargaan. Anggaplah ini sebagai suatu pembelajaran dan tidak akan terjadi lagi dikemudian,” harapnya.

Demikian pula,bagi masyarakat yang ada kontak erat maupun tidak dengan terkonfirmasi positif, hal itu didasarkan dengan asismen yang dilakukan oleh tim PE, baik itu dari pihak puskesmas maupun dari Dinas Kesehatan.

“Jadi kalau hasil asismen itu dinyatakan tim PE untuk dilakukan test swab, maka haruslah swab. Dan kalau bukan kontak erat dikatakan tim PE harus rapid test, maka haruslah rapid. Jadi harus sesuai SOP dan aturan yang telah ditetapkan, baik itu EO ataupun Kemenkes, sehingga perjalanan yang dilakukan di lapangan tidak menyusahkan tim PE dan tidak terjadinya mis komunikasi,” ujar Boy. (Suyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.