Oleh: Viola Angraini (Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung)
Perkembangan teknologi digital saat ini mulai mengubah kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi. Jika dulu pembayaran dilakukan menggunakan uang tunai, sekarang masyarakat semakin terbiasa memakai pembayaran digital karena dianggap lebih praktis dan cepat. Perubahan tersebut juga terlihat di Bangka Belitung. Saat berkunjung ke warung kopi, toko sembako, atau pedagang kaki lima di Pangkalpinang, kita bisa menemukan kode QRIS yang dipasang di meja kasir atau depan tempat usaha. Pembeli hanya perlu membuka aplikasi pembayaran digital, memindai kode QR, lalu transaksi selesai dalam beberapa detik.
QRIS atau *Quick Response Code Indonesian Standard* merupakan sistem pembayaran digital yang dikembangkan oleh Bank Indonesia untuk menyatukan berbagai jenis pembayaran berbasis QR dalam satu standar nasional. Dengan adanya QRIS, pedagang tidak perlu lagi menyediakan banyak kode pembayaran dari aplikasi yang berbeda. Satu kode QRIS dapat digunakan untuk menerima pembayaran dari berbagai layanan digital seperti DANA, OVO, GoPay, ShopeePay, hingga mobile banking.
Penggunaan QRIS di Bangka Belitung mengalami peningkatan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Bangka Belitung, nilai transaksi QRIS pada tahun 2025 mencapai sekitar Rp1,76 triliun dengan total lebih dari 15 juta transaksi. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp897 miliar dengan sekitar 6,5 juta transaksi. Selain itu, jumlah pengguna QRIS juga terus bertambah hingga mencapai lebih dari 227 ribu pengguna dengan sekitar 186 ribu merchant yang telah menggunakan layanan tersebut. Sebagian besar merchant berasal dari sektor UMKM seperti warung makan, usaha kecil, dan pedagang kaki lima.
Peningkatan penggunaan QRIS menunjukkan bahwa masyarakat mulai menerima pembayaran digital sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Kehadiran QRIS tidak hanya mempermudah pembeli, tetapi juga memberikan manfaat bagi pelaku usaha kecil. Melalui QRIS, proses pembayaran menjadi lebih praktis karena penjual tidak perlu menyiapkan uang kembalian. Selain itu, seluruh transaksi akan tercatat secara otomatis sehingga pelaku usaha lebih mudah memantau pemasukan usaha mereka.
Bagi UMKM, pencatatan transaksi memiliki peran yang sangat penting. Banyak usaha kecil sebelumnya kesulitan mendapatkan pinjaman karena tidak memiliki laporan keuangan yang jelas. Dengan adanya transaksi digital melalui QRIS, riwayat pemasukan usaha menjadi lebih teratur dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan saat mengajukan pembiayaan usaha. Dalam kondisi ini, perusahaan teknologi finansial juga mulai memiliki peran besar dalam mendukung perkembangan ekonomi digital masyarakat.
Saat ini, dompet digital seperti DANA, OVO, dan GoPay tidak hanya digunakan sebagai alat pembayaran, tetapi juga menjadi bagian dari sistem keuangan digital di Indonesia. Beberapa perusahaan teknologi finansial bahkan mulai memanfaatkan data transaksi digital untuk melihat kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan mereka. Kondisi tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi masyarakat kecil untuk memperoleh akses pembiayaan yang sebelumnya sulit didapatkan melalui layanan keuangan formal.
Walaupun perkembangannya cukup cepat, penggunaan QRIS di Bangka Belitung masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satu kendala utama adalah kualitas jaringan internet yang belum stabil di beberapa wilayah. Sebagai daerah kepulauan, masih ada wilayah yang mengalami gangguan sinyal sehingga transaksi digital terkadang tidak dapat dilakukan dengan lancar. Akibatnya, sebagian masyarakat masih memilih menggunakan pembayaran tunai karena dianggap lebih mudah dan aman.
Selain masalah jaringan internet, penggunaan QRIS juga masih lebih dominan di wilayah perkotaan dibandingkan daerah desa atau pulau-pulau kecil lainnya. Tidak semua masyarakat memiliki pemahaman yang baik mengenai transaksi digital. Kelompok usia lanjut misalnya, masih banyak yang merasa kesulitan menggunakan aplikasi pembayaran digital karena belum terbiasa dengan perkembangan teknologi.
Masalah keamanan transaksi digital juga menjadi perhatian penting. Munculnya kasus penipuan seperti QRIS palsu membuat sebagian masyarakat merasa khawatir menggunakan pembayaran digital. Oleh karena itu, edukasi mengenai keamanan transaksi perlu terus dilakukan agar masyarakat tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara bertransaksi secara aman dan bijak.
Untuk mendorong penggunaan QRIS, Bank Indonesia terus melakukan berbagai program sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Program seperti Festival Belanja QRIS dan kampanye pembayaran digital dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat transaksi non-tunai. Secara nasional, penggunaan QRIS juga terus mengalami pertumbuhan yang signifikan dan menunjukkan bahwa pembayaran digital telah menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia.
Menurut penulis, perkembangan QRIS di Bangka Belitung menunjukkan bahwa masyarakat mulai siap memasuki era ekonomi digital. Namun, perkembangan teknologi tidak boleh hanya dirasakan oleh masyarakat perkotaan yang memiliki akses internet dan pemahaman teknologi yang lebih baik. Pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan masyarakat perlu bekerja sama agar pembangunan infrastruktur digital serta edukasi keuangan juga dapat menjangkau daerah terpencil dan wilayah kepulauan.
Pada akhirnya, keberhasilan QRIS tidak hanya dilihat dari meningkatnya jumlah transaksi setiap tahun. Hal yang lebih penting adalah apakah teknologi ini benar-benar mampu membantu masyarakat kecil mendapatkan akses ekonomi dan layanan keuangan yang lebih baik. Jika pemerataan infrastruktur digital dan literasi keuangan terus ditingkatkan, QRIS dapat menjadi langkah nyata dalam mendorong inklusi keuangan yang lebih merata di Bangka Belitung.







