Kabel Bawah Laut PLN Jaga Listrik Bangka Tetap Andal dan Lebih Hemat Biaya

by

Pangkalpinang – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Bangka Belitung (UIW Babel) menegaskan kabel bawah laut menjadi infrastruktur penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik di Pulau Bangka sekaligus menekan biaya operasional pembangkitan.

Manajer Unit Pelaksana Konstruksi (UPK) PLN UIW Bangka Belitung, Wayan Budi Laksana, mengatakan kabel bawah laut berperan strategis karena mampu memasok listrik dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan pembangkit berbahan bakar diesel.

“Secara operasional, kabel bawah laut ini sangat penting karena menjadi salah satu penyuplai utama listrik. Dari sisi biaya, jauh lebih murah dibandingkan pembangkit diesel,” kata Wayan di Pangkalpinang, Rabu (—).

Hingga November 2025, PLN telah mengoperasikan dua jalur kabel bawah laut dengan kapasitas masing-masing 50 megawatt (MW). Selain itu, satu jalur kabel tambahan berkapasitas 50 MW juga disiapkan sebagai cadangan.

“Dua kabel sudah beroperasi dan satu lagi kami siapkan sebagai back up,” ujarnya.

Berdasarkan data operasional PLN, daya mampu pasok Sistem Bangka saat ini mencapai 241,05 MW. Dari total tersebut, kontribusi kabel bawah laut sebesar 100 MW, sementara beban puncak tercatat 225,01 MW.

Dengan kondisi itu, cadangan daya sistem kelistrikan Bangka berada di angka 116,04 MW. Wayan menyebut, pembangkit listrik di Bangka masih didominasi bahan bakar minyak (BBM), sementara batu bara hanya digunakan di PLTU.

“Kondisi ini membuat kabel bawah laut sangat krusial untuk menjaga keseimbangan sistem kelistrikan regional Bangka,” jelasnya.

Menurut Wayan, tanpa kabel bawah laut sistem kelistrikan Bangka sebenarnya masih bisa beroperasi secara mandiri. Namun, biaya produksi listrik akan melonjak akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Secara teknis masih bisa berdiri sendiri, tapi biaya produksinya akan jauh lebih mahal,” katanya.

Untuk menjaga keandalan operasional, PLN juga berkoordinasi dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Bangka Belitung dan Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Babel.

Koordinasi dilakukan melalui patroli rutin di sekitar jalur kabel bawah laut guna memastikan aktivitas ponton tambang timah tidak mendekati area kabel.

“Kami koordinasi agar ponton tambang menjauh dari jalur kabel, baik di sisi utara maupun selatan, untuk mencegah gangguan,” tutup Wayan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.