Bangka Selatan, Demokrasibabel.com – Penyerapan pupuk subsidi bagi petani di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menunjukkan tren positif menjelang akhir 2025. Hingga Oktober, penyaluran tiga jenis pupuk telah mencapai lebih dari dua pertiga dari total kuota, seiring turunnya harga pupuk hingga 20 persen yang mendorong antusiasme petani.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Bangka Selatan, Risvandika mengatakan alokasi pupuk subsidi bagi petani tahun ini mencapai 5.409,148 ton. Dari jumlah tersebut, realisasi penyerapan telah menembus 72,04 persen atau 3.897,101 ton.
“Saat ini realisasi penyerapan pupuk subsidi oleh petani sudah mencapai kurang lebih 70 persen,” katanya di Toboali, Sabtu (8/11/2025).
Ia menjelaskan alokasi pupuk subsidi itu terdiri dari pupuk Urea, NPK Phonska, dan pupuk organik. Berdasarkan data hingga akhir Oktober 2025, pupuk Urea telah tersalurkan 1.000,250 ton dari kuota 1.382,121 ton atau 72,51 persen. Artinya, masih tersisa 379,871 ton yang belum ditebus petani.
Untuk pupuk NPK Phonska, realisasi mencapai 2.500,50 ton dari 3.727,509 ton atau 67,07 persen, sehingga masih tersisa 1.227,459 ton. Sementara pupuk organik baru terealisasi 14,480 ton dari kuota 313,998 ton atau 4,62 persen, menyisakan 299,518 ton.
“Ditargetkan alokasi pupuk subsidi akan habis digunakan menjelang musim tanam ketiga (MT3) yang saat ini mulai berjalan di sejumlah desa,” ujarnya.
Ia mengatakan penyerapan pupuk belum maksimal karena sebagian petani masih dalam masa panen, seperti di Desa Serdang dan Pergam. Petani baru mulai mengolah lahan untuk musim tanam berikutnya sehingga belum menebus pupuk. Namun menjelang November hingga Desember, penyerapan biasanya meningkat pesat.
Risvandika menargetkan realisasi pupuk subsidi hingga akhir tahun dapat mencapai 97 hingga 98 persen sebagaimana capaian rata-rata tahun sebelumnya. Pemerintah daerah memastikan stok pupuk di tingkat distributor dan pengecer aman hingga MT3 selesai.
“Kami optimis penyerapan bisa mencapai 100 persen, karena dalam penerapan program swasembada pangan kebutuhan pupuk sangat berpengaruh,” katanya.
Optimisme tersebut semakin kuat seiring penurunan harga pupuk subsidi per 22 Oktober 2025. Harga pupuk Urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram. Satu sak Urea berat 50 kilogram yang semula Rp112.500 kini menjadi Rp90.000.
Harga pupuk NPK juga turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram atau dari Rp115.000 menjadi Rp92.000 per sak. Selain itu, HET NPK khusus kakao turun dari Rp3.300 menjadi Rp2.640 per kilogram, pupuk ZA khusus tebu dari Rp1.700 menjadi Rp1.360 per kilogram, serta pupuk organik dari Rp800 menjadi Rp640 per kilogram.
“Kami berharap petani bisa menembus secara maksimal kuota pupuk subsidi yang sudah mereka dapatkan,” tutupnya.







